West Papua : Seputar Kontroversi Pemakaman Kelly Kwalik

Gembong nomor wahid di Papua, Kelly Kwalik (60), sebagai Panglima Daerah Operasi VIII Mimika dan Pegunungan Tengah kelompok separatis bersenjata di Papua yang dikenal dengan nama Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang setelah sekian lama menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) Polisi, akhirnya tewas ditembak saat disergap personel Brimob di Kampung Gorong-Gorong Distrik Mimika Baru, Kota Timika, Rabu (16/12) sekitar pukul 03.00 WIT. Kelly adalah lulusan sekolah guru bantu (SGB) Fak-fak dan Biak pada 1974 dan seharunya menjadi guru Mapenduma Kab. Jayawijaya namun melarikan diri ke hutan dan bergabung dengan TPN/OPM dibawah pimpinan Jakob Prai dan Seth Rumkorem. Ketika TPN/OPM terpecah dalam sejumlah faksi Kelly pindah ke Wamena, Ilaga, Jilla hingga tiba di Agimuga pada 1976 dan menggantikan Panglima Komando Daerah Operasi III TPN/OPM Anaya Bony Niwilingame dan Kelly disebut sebagai Panglima tertinggi Papua Barat. Nama Kelly dikenal luas setelah menyandera 26 anggota peneliti Tim Lorentz WWF dari Belanda, Inggris, dan Indonesia, selama tiga bulan pada Januari 1996. Penyanderaan yang dikenal dengan nama “Drama Penyanderaan Mapenduma” dilakukan atas kerja sama dengan gembong TPN/OPM lainnya, Yudas Kogoya. Kelly, anak angkat mantan Uskup Jayapura Herman Moninghof, yang berasal dari suku Amungme bergerilya di pedalaman Pegunungan Tengah Papua melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan bergerilya di hutan-hutan Papua. Kelly selalu dikaitkan dengan penyerbuan terhadap karyawan maupun instalasi di kawasan tambang perusahaan PT Freeport Indonesia di Tembagapura beberapa waktu lalu yang mengakibatkan 2 WNA asal Australia meninggal. Seiring dengan berakhirnya sepak terjang Kelly, Selasa (22/12) yang dimakamkan di Timika, Papua, kini menyisakan persoalan baru dan konflik horizontal bagi si pemilik tanah yang dijadikan tempat peristirahatan terakhir Kelly. Persoalan tersebut muncul akibat tidak adanya kesepahaman sebelumnya dengan pemilik tanah, bahkan menurut pengakuan Thadeus Dogopia (pemilik tanah), dirinya beserta keluarga tidak pernah diberitahu atau diundang dalam rapat panitia pemakaman Kelly. Oleh karenanya, Thadeus Dogopia (54) yang bertempat tinggal di Distrik Mimika Baru, Kota Timika menyatakan keberatannya dengan melayangkan surat tuntutan yang ditujukan kepada Direktur Executive Lembaga Adat LEMASA menyampaikan permintaan ganti rugi kepada lembaga adat LEMASA atau pemerintah daerah setempat. Ganti rugi yang diinginkan bukan berupa uang tapi berupa limbah PT. Freeport Indonesia yaitu berupa besi tua sebanyak 7500 ton dimana biaya pemotongan transportasi serta pengiriman barang akan ditanggung si pemilik tanah. Surat tuntutan permintaan ganti rugi tersebut juga ditembuskan ke beberapa intansi di Papua diantaranya Kapolda Papua, PT. Freeport Indonesia, Bupati Kab. Mimika, DPRD Kab. Mimika, Dandim 1710 Mimika dan Kapolres Mimika. Sungguh ironi, semasa hidup dan sesudah tewasnya pun Kelly menimbulkan masalah. Kalau sudah seperti ini siapa yang akan bertanggung jawab terhadap persoalan tersebut. Masyarakat adatkah? Pemerintah deerah? pendukung Kelly? Atau PT. Freeport Indonesia? Bagaimana mungkin bila sebuah lahan garapan yang ada pemiliknya tiba-tiba begitu saja dipakai untuk tempat pemakaman tanpa seijin si pemilik lahan. Apakah mungkin gejala ‘markus’ alias makelar kasus juga sudah merambah pula di tanah Papua dalam hal ini ‘markus’ pemakaman Kelly? Atau bahkan yang terjadi adalah adanya hukum rimba, siapa yang kuat dialah sang pemenang. Kelly yang dianggap Panglima TPN/OPM bak seorang ‘Raja’ yang sesenang hati dapat melakukan apapun dengan mendapat perlakuan ‘istimewa’, sehingga saat dirinya tewas pun dapat dimakamkan dimana saja. Perlakuan ‘istimewa’ terhadap pemakaman Kelly tentunya kontra apa yang telah dilakukannya semasa hidup dengan membuat kekacauan yang mengakibatkan keresahan bagi masyarakat Papua. Kehidupan masyarakat Papua yang merasa terusik dengan berbagai macam kekerasan serta mengecam aksi tersebut seolah ‘munafik’ atas apa yang pernah disuarakan mereka. Di satu sisi, mengecam terhadap aksi kekacauan di Papua yang selama ini dilakukan Kelly, namun memperlakukan ‘istimewa’ saat pemakaman Kelly bak seorang ‘Raja’.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s