Tolak MRP = Tolak Pemerintah

*Politis atau Agama ?

Roma 13 : 1 menyatakan “Tiap-tiap orang harus takluk  kepada pemerintah yang diatasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”.

Firman tersebut menggambarkan kepada kita bahwa pemerintah merupakan wakil Allah didunia, tidak ada pemerintahan yang berjalan tanpa direstui oleh Allah. Oleh karena itu, rakyat harus patuh kepada pemerintah serta ikut bersama pemerintah dalam membangun bangsa dan negara. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mensejahterakan dan melindungi rakyatnya harus didukung oleh segenap komponen masyarakat baik dari kalangan akademisi, intelektual, tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Keberadaan tokoh agama menjadi salah satu kekuatan baru yang bagus untuk menyeimbangkan posisi rakyat dengan pemerintah. Tokoh agama dipandang sebagai seorang yang tulus dan ikhlas dalam berjuang sehingga rakyat cenderung lebih mendengarkan tokoh agama daripada tokoh lainnya saat ini.

Namun, yang terjadi di Papua sungguh berbeda. Tokoh agama malah menjadi motor penggerak masyarakat Papua untuk menentang kebijakan pemerintahan yang sah. Beberapa pemimpin umat di Papua yang tergabung dalam Pemimpin-Pemimpin Gereja Se-Tanah Papua seperti Benny Giay, Socratez Sofyan Yoman, dan Herman Awom, menggalang massa untuk melaksanakan demo menolak pembentukan Majelis Rakyat Papua (MRP). MRP merupakan lembaga representasi kultural bagi masyarakat Papua untuk melindungi hak-hak dasar mereka yang diatur dalam UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus di Tanah Papua. Mereka menentang kebijakan pembentukan MRP periode 2011-2016, padahal MRP sebelumnya tidak mendapat penolakan dari kelompok pemimpin gereja tersebut, bahkan cenderung mendukung setiap kegiatan MRP periode sebelumnya. Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang motivasi sebenarnya dari pemimpin gereja terkait penolakan terhadap MRP.

Para pemimpin gereja di Tanah Papua tersebut seharusnya menjembatani pemerintah dan rakyat Papua, menjelaskan dan membantu pelaksanaan Otonomi Khusus di Papua, bukan menolak implementasi Otsus dan menyatakan bahwa Otsus gagal. Hal tersebut akan memperburuk keadaan masyarakat Papua. Lembaga keagamaan bertanggungjawab mendidik masyarakat Papua dengan berlandaskan kasih ajaran agama agar saling bahu membahu mensukseskan kebijakan pemerintah demi kepentingan rakyat. Kebijakan Otsus merupakan sebuah kebijakan yang khusus diberikan kepada Papua karena kekhususannya agar bisa dibangun seperti daerah lain di Indonesia, tentunya alokasi dana pembangunan ke Papua juga lebih besar dari pada alokasi dana ke daerah lain.

Pernyataan dan kampanye bahwa Otsus telah gagal juga sepenuhnya tidak benar. Implementasi Otsus di Papua tidak bisa dilakukan secara penuh karena memang terdapat hambatan-hambatan seperti tantangan alam dan juga mental para pejabat di Papua yang rentan korupsi. Kebijakan Otsus adalah kebijakan terbaik yang dikeluarkan Pemerintah demi kemajuan pembangunan di Papua. Pemerintah memang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan sebuah kebijakan, namun para pelaksana di lapangan juga harus mempunyai visi yang sama dengan pemerintah, sehingga tujuan dari kebijakan yang tertuang secara teoritis dapat terwujud secara nyata.

Gereja mempunyai tanggung jawab untuk memperjuangkan umatnya lepas dari kemiskinan dan kebodohan, bukan terjun kedalam politik praktis dan melakukan kegiatan politik seperti lembaga politik ataupun lembaga masyarakat lainnya. Penolakan pemimpin gereja terkait pembentukan MRP merupakan salah satu bentuk kegiatan politik praktis karena menyentuh ranah hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Para pemimpin gereja di Papua seharusnya bisa menempatkan kepentingan rakyat banyak diatas kepentingan tertentu, bukan memperjuangkan kepentingan pribadi yang justru malah merugikan rakyat Papua keseluruhannya. Trilogi tugas gereja yaitu Marturia (bersaksi), Koinonia (bersekutu), dan Diakonia (melayani) hendaknya menjadi landasan kegiatan gereja dan pemimpin umat sehingga kasih Allah yang bekerja dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Papua.


Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s