Keresahan Perwakilan Masyarakat Papua

Menunggu adalah salah satu pekerjaan yang membosankan, apalagi menunggu tanpa ada kepastian sampai kapan akan terwujud. Ketika penantian itu hanya berdampak pada diri sendiri ataupun segelintir orang, hal tersebut bukanlah hal yang luar biasa. Menjadi luar biasa ketika ketidakpastian itu dialami oleh anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), yang merupakan lembaga kultural masyarakat Papua dan Papua Barat. Dampak ketidakpastian itu tidak hanya dirasakan oleh para anggota MRP terpilih, namun akan berdampak pada seluruh rakyat Papua dan Papua Barat.

Sejumlah anggota MRP asal Pegunungan, antara lain Constan Otemka, Timotius Murib, Wasilani Mabel, dan Nehemia Yebikon mendesak Gubernur Papua dan Kemendagri agar segera memberikan kepastian pelantikan MRP Periode 2011-2016. Hal tersebut karena sebagian besar anggota MRP terpilih sudah berminggu-minggu berada di Jayapura menanti dengan perasaan kebingungan karena tidak ada kejelasan.

Perwakilan MRP terpilih 2011-2016 juga menginginkan perubahan dalam unsur pimpinan MRP yang mampu merangkul masyarakat serta tidak membuat jarak “jurang pemisah” dengan anggota MRP, karena menurut informasi dari anggota MRP periode sebelumnya, unsur pimpinan MRP sebelumnya sangat sulit ditemui di ruang kerjanya. Untuk bertemu dengan anggota MRP saja susah apalagi bertemu dengan masyarakat ? Padahal mereka adalah merupakan “Wakil Rakyat Papua” bukan “Wakil Kepentingan”.

Ketua MRP kedepan juga harus mengerti tentang adat Papua bukan yang bukan hanya mementingkan diri pribadi atau kepentingan politis dari kelompoknya.  Lebih aneh lagi unsur pimpinan MRP sebelumnya dengan lantang menolak Otonomi Khusus bagi Papua, padahal MRP lahir karena Otsus tersebut, bahkan gaji yang diterima setiap bulan adalah dari dana Otsus. Banyak orang yang kadang mudah sekali lupa pada saat menjabat, lebih parah lagi banyak pula yang tidak tahu malu. Mereka tidak hanya memalukan diri sendiri, tetapi mereka membuat malu seluruh rakyat di Tanah Papua.

Pimpinan MRP kedepan harus orang yang tahu malu, dan bukan yang mempunyai sikap seperti “Kayu Hanyut”.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s