Kebohogan Besar Herman Wanggai

Ada kabar burung bahwa Herman Wanggai akan menyelenggarakan “pemberangkatan” kembali warga Papua ke Australia. Membaca nama Herman Wanggai, memori sebagian orang masyarakat akan mengenang kisah kepulangan dua Warga Negara Indonesia (WNI) asal Papua, Yunus Wainggai dan putrinya, Anike Wainggai, ke Indonesia, 29 Nopember 2008, setelah hampir tiga tahun berada di Australia. Sepenggal kisah manusia perahu yang merupakan korban Herman Wanggai (penyelundup manusia dan menelantarkannya di Australia).

Yunus mengaku semula dia tidak tahu bahwa kepergian mereka ke Australia, hanya dimanfaatkan oleh Herman Wanggai dan kelompoknya, untuk memperoleh ambisinya. Kepulangan Yunus Wainggai dan putrinya itu merupakan kepulangan yang kedua dari kelompok yang sempat disebut menamakan dirinya pencari suaka, menyusul kepulangan Hana Gobay dan Yubel Kareni, yang kembali setelah meminta bantuan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne dan Departemen Luar Negeri Indonesia. Kepulangan Yunus, Hana Gobay dan Jubel Kareni merupakan akumulasi dari kekecewaan dan frustrasi terhadap Herman Wanggai, yang telah membohongi dan merampas uang mereka dengan memberi janji-janji indah jika sesampainya di Australia.

Sempat ada tuduhan yang dilaontarkan Herman Wanggai, bahwa intelijen terlibat dalam kepulangan Yunus Wanggai. Namun hal tersebut dibantah oleh aktivis OPM di Vanuatu, Andy Ayamiseba. Menurut Andy Ayamiseba keinginan Yunus, Anike, dan Siti Wanggai (istri Yunus yang menetap di Vanuatu) untuk pulang ke Indonesia murni dari keinginannya sendiri karena kecewa dengan Herman Wanggai, orang yang satu fam dengan Yunus, yaitu sama-sama keluarga Wanggai.

Istri Yunus Wanggai berada di Vanuatu setelah dijanjikan oleh Herman Wanggai dan kelompoknya akan diberangkatkan ke Australia untuk bergabung dengan suaminya. Namun janji tersebut lagi-lagi ternyata tidak dapat dipenuhi Herman. Sebagai bagian dari tanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada warga negaranya, Pemerintah Indonesia telah menanggapi secara positif permintaan Siti Wanggai untuk berkumpul kembali bersama suami dan puterinya. Pemerintah melalui koordinasi dengan Pemerintah Vanuatu, telah memfasilitasi kepulangan yang bersangkutan ke Tanah Air.

Menurut Siti Padera, perpisahan dirinya dari suami dan anaknya, itu bisa terjadi lantaran ditipu oleh Herman Wanggai, untunglah berkat pertolongan dari KBRI sehingga dirinya bisa kembali bertemu dengan suami dan anaknya, bahkan dirinya mengaku akibat mencari suami dan anaknya, dirinya juga sempat lari ke PNG. “Dia (Herman Wanggai) menipu kami sehingga kami berpisah, suatu hal yang sangat menyakitkan, namun kami bersyukur dapat kembali bertemu. Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi, kami sudah tidak percaya lagi dengan Herman Wanggai, kami ingin tetap hidup aman di Indonesia,” jelasnya.

 

Bukti kebohongan Herman Wanggai

Merasa dibohongi, dua orang WNI yang menjadi korban Herman Wanggai, Hana Gobay dan Yubel Kareni akhirnya mendatangi Komisi I DPR-RI, dan menceritakan semua kejadiannya.

Saat keberangkatan untuk mencari suaka ke Australia tahun 2006 yang lalu, 43 warga itu membayar uang sebesar Rp 7 juta. Dan, keberangkatan itu merupakan kebohongan dan konspirasi politik orang-orang tertentu yang tidak senang dengan Indonesia. Intinya, mereka dijanjikan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Namun setelah sampai di Australia, ke-43 warga itu berpisah dan ternyata janji yang mereka terima tak terwujud. Yubel dan Hana pun memutuskan kembali ke Indonesia dan tiba di Biak pada 23 September 2008.

Setelah kembali ke Tanah Air, Hana Gobay dan Yubel Kareni melaporkan kondisinya ke Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi I DPR-RI untuk meminta perlindungan dan meminta jaminan untuk melanjutkan pendidikan yang terputus saat lari ke Australia serta bisa terbebas dari tekanan pihak lain. Hana Gobay, seorang perempuan asal Merauke, mengatakan, saat meninggalkan Papua, pada 2005, dia adalah mahasiswa semester VII pada sebuah perguruan tinggi di Manado, Sulawesi Utara. Dia memutuskan pergi ke Australia karena diimingi oleh pentolan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Herman Wanggai, karena dijanjikan melanjutkan kuliah di Australia. Informasi tersebut disebarkan melalui gereja-gereja. Tetapi, setelah sampai di Australia, ternyata mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di negeri itu. Mereka hanya mendapat kursus bahasa Inggris gratis yang diikuti oleh semua pencari suaka politik saat itu.

Menindaklanjuti hal tersebut, Komnas HAM, dalam suratnya tertanggal 20 Oktober 2008 dan ditandatangani anggotanya, Johny Nelson Simanjuntak, meminta Gubernur Papua Barnabas Suebu untuk memberikan perlindungan kepada Hana Gobay dan Yubel Kareni. Dengan demikian, mereka dapat melanjutkan pendidikan dan bebas dari tekanan pihak lain.

Selain itu, Yunus Wanggai juga mendatangi Kepolisian Daerah Papua didampingi  kuasa hukumnya Sudjono, SH untuk melaporkan Herman Wanggai, yang menurut Sudjono, SH, Herman Wanggai telah melakukan tindak pidana Human Traffiking (perdagangan orang). Kalau kita mencermati apa yang sudah dialami Yunus Wanggai, dapat disimpulkan bahwa tindakan Herman Wanggai dan kelompoknya dapat dikategorikan dalam tindakan pidana perdagangan orang, dimana tindakannya kepada Yunnus Wanggai telah memenuhi unsur-unsur dari perdagangan orang, seperti berikut :

1.      Unsur perbuatan : bahwa dalam kasus Yunus Wanggai telah terjadi perbuatan merekrut, mengangkut, memindahkan, menyembunyikan (identitas) dan/atau setidak-tidaknya terdapat gerakan/pemindahan (movement) yang diprakarsai oleh Herman Wanggai.

2.      Sarana/cara untuk mengendalikan korban : adalah dengan jalan menipu (penipuan), dan melakukan tindakan kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan Yunus Wanggai yang berada ”dalam posisi lemah secara intelektual dan tidak dapat berbuat banyak”.

3.      Tujuan : eksploitasi. Bahwa tindakan eksploitasi yang terjadi dalam kasus ini tidak dalam posisi untuk ”mempekerjakan” atau ”menjual” yang bersangkutan, namun lebih kepada ”eksploitasi secara politis” , dimana Herman Wanggai dan kelompoknya menggunakan Yunus Wanggai sebagai ”sarana propaganda” sekaligus ”sumber dana” untuk kegiatannya menyuarakan Papua Merdeka di Australia.

 

 

Ancaman Herman

Seperti minyak tanah atau bensin yang tersulut api, kembalinya sebagian warga Papua yang berada di Australia ke Indonesia dan melaporkan aksinya ke Komnas HAM, Komisi I DPR-RI dan Polda Papua memicu emosi Herman Wanggai, dan mengancam Hana Gobay dan Yubel yang disampaikan melalui milis yahoo.groups dan milis WPNA. Dalam surat bertajuk “SIMPA” 2 WNI kembali ke Indonesia !” tertanggal 23 Sep 2008 itu, Herman Wanggai mengatakan, keduanya adalah musuh bersama para pendukung Papua Merdeka. “Ade Hana Gobay dan Jubel Kareni, kaka Herman cuma ucapkan selamat atas pengkhianatanmu.”

Dengan demikian, kepulangan empat orang WNI asal Papua itu merupakan fakta bahwa Herman Wanggai merupakan penjerumus orang Papua dan hanya untuk menghancurkan masa depan Papua. Herman Wanggai kini tengah kebakaran jenggot karena istrinya yang telah dicerai meminta untuk kembali ke Papua bersama kedua anak kembarnya. Mereka sudah tidak tahan dengan perlakuan kasar Herman Wanggai yang sering memukul dan mengancam untuk membunuhnya. Herman Wanggai juga menceritakan kepada teman-temannya untuk tidak mendekat dengan Istrinya, karena sudah tidak waras (gila) dan seperti pelacur. Perlakuan tersebut membuat kedua anak dan istrinya takut untuk tinggal di Australia, sehingga memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Kedua anaknya menyebut Herman Wanggai sebagai “Hellboy” (sosok monster yang menyeramkan).

Upaya Herman Wanggai dalam mengemas tindakan yang bisa dikategorikan Human Traffiking menjadi pencarian suaka politik, hanyalah salah satu kegiatan Herman Wanggai dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari di Australia. Dukungan dana akan mengalir ke kantong Herman Wanggai dkk, apabila mereka melakukan aksi-aksi dengan menjual isu ketidakadilan Pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua, kekerasan aparat keamanan Indonesia terhadap rakyat Papua dan pembebasan Tapol/Napol Papua di seluruh wilayah Indonesia. Melalui aksi-aksi tersebut, ada saja donatur yang memberikan bantuan baik dari perorangan, LSM, organisasi maupun negara. Seperti dalam aksi di depan KBRI di Amerika pada 16 Juni 2011, Herman Wanggai berhasil menyakinkan beberapa aktivis Amnesty International untuk melakukan aksi unjuk rasa menuntut pembebasan Tapol/Napol Papua seperti Filep Karma dan Bukhtar Tabuni.

Menelisik apa yang sudah dilakukan oleh Herman Wanggai selama ini, dapat dikategorikan bahwa tindakan Herman Wanggai adalah tindakan melawan hukum (perdagangan orang). Sayangnya Pemerintah dan aparat Kepolisian kurang serius membawa kasus ini ke jalur hukum, agar kegiatan ini tidak terulang kembali. Mencermati kabar burung, rencana Herman Wanggai untuk memberangkatkan kembali warga Papua ke Australia, Pemerintah perlu mewaspadai dan mengingatkan masyarakat Papua agar jangan mudah tertipu rayuan gombal Herman Wanggai, karena melihat cerita yang sudah-sudah, kehidupan di Australia justru lebih sulit dan lebih kejam. Sebagus dan sebaik apapun kita hidup di negeri orang, namun jauh lebih bahagia dan damai apabila bisa hidup di negeri sendiri dengan orang yang kita cintai, sama seperti pepatah lama mengatakan, “Sebaik-baik hidup di negeri orang, lebih baik hidup di negeri sendiri”.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s