SEMANGAT TRIKORA MEMBANGUN PAPUA


Tanggal 19 Desember 1961 dicatat sejarah sebagai peristiwa penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu, Presiden Soekarno menyampaikan secara lantang Tri Komando Rakyat di depan rapat raksasa di Yogyakarta.
Seruan pendiri bangsa ini menjadi titik balik yang menentukan masuknya wilayah Papua ke Indonesia.Tri Komando Rakyat, yaitu 1. Gagalkan Pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda, 2. Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia, 3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa. Momentum ini kemudian menjadi peringatan Hari Trikora sebagai hikmah bangsa Indonesia yang tetap menginginkan fondasi persatuan dan kesatuan yang kokoh, tidak dapat lagi dipisah-pisahkan hanya karena perbedaan cara pandang dan perbedaan ras.
Dikomandokannya Trikora oleh Bung Karno, menandai digunakannya segenap kekuatan TNI/Polri dan komponen rakyat Indonesia, termasuk yang ada di Irian Barat, bahu-membahu mengusir Belanda di Irian Barat.
Itulah catatan sejarah, yang tertulis dengan tinta emas dalam perjalanan NKRI. Namun
pembangunan Papua hingga saat ini belum berjalan dengan baik, karena masih ada gerombolan yang mengacaukan jalannya program pembangunan di Papua. Secara umum, program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan, terus dilakukan pemerintah untuk mensejajarkan warga Papua, sama seperti warga negara Indonesia yang berada di wilayah-wilayah lain.
Adanya gerakan separatisme yang bertujuan untuk memerdekakan Papua terpisah dari NKRI  diyakini sebagai salah satu penghambat pembangunan di Papua. Kendati jika diukur dari kekuatan bersenjatanya, memanglah sangat kecil. Namun yang jelas, keberadaan kelompok separatis tersebut sedikit banyak telah mengganggu kelancaran   pembangunan di wilayah Papua. Sehingga proses percepatan pembangunan dan peningkatan taraf kesejahteraan hidup rakyat Papua menjadi berjalan lamban.
Upaya  untuk meningkatkan dan memeratakan pembangunan telah berjalan dengan cukup optimal, diantaranya melalui Otonomi khusus Papua dan pemekaran wilayah. Akhir akhir ini banyak diantara anggota OPM yang  ingin bergabung dan kembali kepada Negara Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mulai sadar, bahwa pembangunan di Papua lebih penting daripada menjadi anggota separatis yang sia-sia dan membuang-buang waktu.
Jika pada proses selanjutnya, para anggota dan simpatisan OPM banyak yang sadar, menyerahkan diri, dan bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain membangun Papua, maka cepat atau lambat ketertinggalan dan keterbelakangan yang dialami rakyat Papua akan teratasi.

Rakyat tidak perlu curiga kepada kehadiran TNI, begitu pula sebaliknya, TNI tidak perlu represif dalam menangani warga Papua yang belum sepaham dengan pemerintah. Mudah mudahan dengan semangat  Trikora, Papua akan menjadi daerah yang sangat makmur, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa melebihi daerah lainnya di Indonesia, mengingat bumi Papua memiliki potensi dan kandungan kekayaan alam yang sangat berlimpah, yang selama ini telah memberikan kontribusi sangat besar kepada negara Indonesia.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s