KNPB (Kelompok perjuangan atau Kriminal HAM ?)

Aksi kebrutalan massa pelayat di Waena, yang menewaskan salah seorang warga yang tidak bersalah, Dedy Kurniawan meninggalkan duka yang mendalam bagi keluargnya.

Dedi Kurniawan, 28, warga sipil yang ditikam secara brutal oleh massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pada Rabu (2/5) Saat melintas dan bertemu massa KNPB yang kemudian menghadang korban lalu secara mendadak menikam dari belakang punggungnya hingga tewas setelah dilarikan dan mendapat perawatan intensif di RS Dian Harapan Jayapura, Kamis (3/5).

Erwin Siswanto - Kakak Korban

Erwin Siswanto – Kakak Korban

Duka mendalam meyelimuti keluarga Dedi Kurniawan, Hal ini diungkapkan kakak korban, Erwin Siswanto.
“Adik saya selesai kerja dan mau pulang ke Sentani. Terus sekitar pukul setengah lima, pas di jembatan Expo Waena ada orang demo. Biasanya kalau ada demo kita tunggu di pinggir jalan,” tukas Siswanto menceritakan.

Namun lanjut dia, massa justru menyerang sejumlah orang yang ada di jembatan, termasuk adiknya yang langsung dikeroyok dan ditikam. Warga lain berhasil menyelamatkan diri, namun naas bagi Dedi, karena korban ditikam di bagian pinggang belakang sebelah kiri. “Setelah ditikam, adik saya lari ke Waena Kampung, dan diselamatkan oleh Mama Milka Ramses Ohee, lalu dibawa ke rumah sakit Dian Harapan,” ujarnya.

Mako Tabuni - Ketua I KNPB

Mako Tabuni – Ketua I KNPB

Sementara itu Ketua I KNPB, Mako Tabuni pada kesempatan lain menyatakan ‘’Kalau diminta pertanggungjawaban, KNPB siap diperiksa terkait aksi pengrusakan dan tewasnya salah satu warga di Waena, yang terjadi Rabu 2 Mei malam. Namun, keterangan akan diberikan setelah Polisi melakukan olah TKP,’’ujar Mako Tabuni kepada wartawan saat mendatangi Polda Papua, Kamis 3 Mei.

Bagaimana mungkin sebagai suatu kelompok atau organisasi yang katanya menjunjung tinggi dan memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) tetapi ia sendiri tak melakukannya dengan sepenuh hati malah melakukan tindakan brutal/sadis karena telah menghilangkan nyawa seseorang dan dikategorikan dalam pelanggaran HAM berat, dan dikenal dengan Istilah “ kejahatan terhadap kemanusiaan “ (crimes against humanity).

Istilah “ kejahatan terhadap kemanusiaan “ (crimes against humanity) sebagai suatu kategori dari kejahatan internasional mulai dikenal didalam join declaration pemerintah Perancis, Inggris, dan Rusia pada tanggal 28 mei 1915. Pernyataan bersama dari tiga Negara ini dibuat untuk mengutuk tindakan Turki yang membantai lebih dari satu juta warga turki dari keturunan Armenia. Oleh pernyataan bersama itu, tindakan pembantaian terhadap orang-orang Armenia itu disebut sebagai “kejahatan terhadap peradapan dan kemanusiaan” (crimes against civilization and humanity).

Kodifikasi yang lebih jelas terhadap tindakan yang tergolong sebagai “kejahatan terhadap peradaban dan kemanusiaan” ini selanjutnya dimuat di dalam Konstitusi Mahkamah Kejahatan Perang Nurenberg yang dibentuk di penghujung Perang Dunia II. Seraya menegaskan bahwa “kejahatan terhadap kemanusiaan” merupakan hukum internasional yang berkembang melalui kebiasaan, Konstitusi Mahkamah Nuremberg menyatakan bagwa “kejahatan terhadap kemanusiaan” mencakup tindakan-tindakan, “…..murder, extermination, enslavement, deportation, and another in humaneacts committed agains any civilian population, before or during the war, or persecution on political, racial or religious grounds in execution of or in connection with any crime within the jurisdiction of the tribunal, whether or not in violation of the domestic law of the country where perpetrated”.

“Pembunuhan” Yaitu serangan yang ditujukan terhadap penduduk sipil yang dapat diartikan bahwa sebagaimana perbuatan tersebut terdiri dari serangkaian tindakan yang berkaitan dengan atau merupakan tindak lanjut dari kebijakan suatu kelompok ataupun organisasi untuk melakukan kejahatan pembunuhan tersebut.

Perbuatan “ kejahatan terhadap kemanusiaan “ yang telah dilakukan oleh organisasi KNPB telah masuk dalam catatan sejarah pelanggaran HAM di Papua, jadi perjuangan apalagi yang diharapkan oleh rakyat Papua, haruskah nyawa selalu menjadi taruhan dengan mengatasnamakan perjuangan ? haruskan warga sipil yang tidak mewakili kepentingan apapun dan kelompok manapun menjadi korban ? haruskah jalan kekerasan menjadi alat untuk memuaskan segala keinginan sekelompok orang ?
Bukankah jalan damai terasa lebih manis kawan ?

Media Indonesia - 7 Mei 2012

Media Indonesia – 7 Mei 2012

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s