OPM : PEJUANG ATAU PEMBUNUH RAKYAT PAPUA

 

Sekelompok orang yang menyatakan diri sebagai pejuang pembebasan rakyat Papua atau lebih dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM), mengaku bahwa perlawanan terhadap pemerintah Indonesia menuju sebuah kemerdekaan merupakan panggilan jiwa untuk memperjuangkan aspirasi seluruh rakyat Papua. Setelah meninggalnya beberapa tokoh penting yang dianggap sebagai “Panglima” seperti Theys Aluay Panglima wilayah Jayapura, Kelik Kwalik Panglima Wilayah Timika dan Melkianus Awom Panglima wilayah Biak Numfor, perjuangan mereka sudah mulai terlihat sangat surut dan yang terjadi kemudian muncul friksi yang lebih memperjuangkan kepentingan individual para petinggi OPM, bahkan sasaran tembaknya saat ini sudah mulai bergeser kepada warga sipil yang notabene masyarakat asli Papua.

Disisi lain masyarakat Papua sendiri di wilayah Pegunungan yang merupakan markas OPM seringkali merasa terganggu oleh kegiatan mereka. Seperti yang disampaikan oleh salah satu kepala kampung Distrik Mewoluk Tinggi Nambut Sem Purleme, bahwa mereka sering turun ke perkampungan dengan paksa meminta bahan makanan, bahkan kadang-kadang terjadi pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Apakah ini yang disebut sebagai “pejuang kemerdekaan Papua” atau justru membenarkan anggapan sebagai kalangan bahwa OPM merupakan gerombolan bersenjata yang mengganggu keamanan dan ketertiban bahkan melakukan pembunuhan terhadap masyarakat Papua yang cinta damai?

Beberapa peristiwa penembakan yang mengakibatkan korban meninggal dunia pada tahun 2012 terjadi sedikitnya 6 kali penembakan. Penembakan terhadap tukang ojek, Arkilaus Refwutu, 48 tahun, menjadi korban penembakan yang terjadi pada Kamis 17 Mei sekitar pukul 09.15 WIT. Dari data yang berhasil dihimpun, korban saat itu melintas di lokasi kejadian, mencari penumpang lalu dihadang kelompok orang tak dikenal. Kemudian ia ditembak dan tewas di tempat. Direktur Reserse dan Kriminal Polda Papua Komisaris Besar Wachyono membenarkan adanya peristiwa penembakan itu. “Korban ditembak di sekitar Kampung Wuyukwi Distrik Mulia sekitar pukul 09.15 WIT, dan langsung tewas di tempat, diduga pelakunya kelompok bersenjata yang selama ini sering melakukan terror atau biasa disebut OPM” kata Wachyono.

Pada tanggal 5 April 2012 Pesawat Trigana Air bernomor penerbangan PK-YRF ditembak oleh orang tak dikenal di Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya diduga pelakunya juga OPM. Pesawat yang terbang dari Nabire menuju Mulia itu menjadi sasaran pnembakan gerombolan sipil bersenjata saat mendarat hingga menabrak gudang mengakibatkan korban meninggal dunia seorang wartawan Harian Pasific Pos Lerion Kogoya yang merupakan masyarakat asli Puncak Jaya Papua.

Di Mulia, tepatnya di Kampung Kulirik, Distrik Mulia, kelompok OPM juga menembaki tukang ojek yang sedang bekerja mengantar penumpang.

Berdasarkan data yang dihimpun, kronologi penembakan bermula ketika, Kamis 2 Februari 2012, sekitar pukul 09.30 WIT, dua orang tukang ojek sedang mengantar penumpang ke Kampung Kulirik. Salah satu di antara tukang ojek itu bernama Yondri. Usai mengantar penumpang dan hendak kembali ke Kota Mulia, tiba-tiba mereka dihadang oleh sekitar 10 orang bersenjata api. Kedua tukang ojek itu pun ditembaki oleh kelompok bersenjata tersebut. Yondri kemudian tertembak di leher. Pipinya pun dikampak dan akhirnya meninggal dunia saat di evakuiasi ke Rumah Sakit Mulia. Seorang tukang ojek lagi yang merupakan rekan Yondri berhasil menyelamatkan diri dengan dari lokasi kejadian. Namun keberadaannya sampai saat ini belum diketahui. Aparat masih melakukan pencarian atas dirinya. Sementara Yondri yang kondisinya kritis lalu dilarikan ke Rumah Sakit Mulia.

Sebelumnya kelompok OPM pimpinan Danny Kogoya pada bulan Agustus 2011 di Nafri Jayapura, melakukan penembakan yang mengakibatkan 4 orang meninggal dunia. Dalam peristiwa tersebut Polresta Jayapura menetapkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Danny Kogoya adalah pelaku penembakan. Danny Kogoya kini berstatus buron.

Menurut Kapolresta Jayapura, AKBP Imam Setiawan, pelaku penembakan dan pembacokan di Nafri adalah anggota TPN/OPM (Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka). Dugaan itu terkuak dari bukti-bukti hasil penyisiran di Gunung Tanah Hitam Kota Jayapura.

Polisi menemukan barang bukti serta dokumen yang menyebutkan Danny Kogoya sebagai pimpinan TPN/OPM wilayah Jayapura. Danny Kogoya, langsung ditetapkan ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polresta Jayapura.

Alasan Imam, Polisi punya bukti kuat atau dokumen yang menyatakan Danny sebagai pimpinan TPN/OPM. Danny pun disebut Imam juga sudah menyatakan diri sebagai pihak yang bertanggungjawab pada satu media di Jayapura.

Melihat bukti-bukti kekerasan yang dilakukan oleh OPM, apakah masih pantas dikatakan bahwa OPM berjuang untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Papua?. Beberapa kalangan saat ini justru saat ini lebih sependapat bahwa OPM merupakan kelompok kriminal bersenjata, karena kegiatannya banyak merugikan masyarakat Papua, bahkan membunuh masyarakat Papua sendiri yang tidak tahu apa-apa. Sudah saatnya masyarakat Papua meninggalkan dukungan terhadap kelompok OPM yang nyata-nyata malah merugikan masyarakat atas tindakkannya seperti yang disampaikan oleh Wakil Ketua DPRP Papua Yunus Wonda di Jayapura menyayangkan peristiwa penembakan di Mulia, sehingga operator penerbangan enggan melayani rute ke Mulia karena memang pihak penerbangan merasa keamanannya terganggu.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s