Mengeliminir Provokasi Negatif di Maluku Dengan Budaya Pela Gandong

Secara garis besar provokator dalam kamus besar Indonesia adalah sebagai perbuatan untuk membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut dan pancingan. Itu berarti bahwa provokator adalah pembangkit kemarahan, penghasut, dan pemancing. Kata provokator sendiri identik dengan hal-hal yang negative, sebenarnya pandangan/persepsi masyarat umum itu kurang obyektiv. Mengapa demikian? Karena tidak semua provakator itu berhubungan dengan hal yang anarkis melainkan hal yang bersifat positiv juga ada dan banyak provokator yang menjadi motivator dalam kegiatan/tujuan yang positive (endingnya yang harus dilihat). Sebab provokasi yang dikeluarkan oleh provokator hanyalah sebuah pemicu/pemancing sehingga melahirkan suatu reaksi.

Sedangkan motivator adalah orang yang memberikan/penggerak untuk memotivasi orang lain melakukan sesuatu hal. Hampir sama pengertianya, akan tetapi Kalau motivator lebih identik dengan hal yang berbauh positive, akan tetapi aplikasinya tidak seperti teorinya. Memang benar setiap tindakan yang dilakukan berawal dari motivasi, akan tetapi bagaimana kita (individu) mengelolah motivasi (niat) dan mengembangkan serta menerapkan ke hal yang positive.

Motivator yang positive inilah yang perlu diperbanyak di Maluku. Maluku butuh pejuang-pejuang motivator yang kuat mental dan sabar untuk mendamaikan, menentramkan dan mensejahterkan Maluku dari lingkaran kerusuhan, keterpurukan ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Cerita-cerita sejarah perjuangan para pahlawan nasional dalam memerdekan atau mempertahankan kemerdekan Indonesia dari usaha-usaha para penjajah untuk mengambil hak azasi rakyat Indonesia termasuk hasil buminya melalui berbagai macam strategi termasuk usaha adu domba atau memprovokasi antar rakyat Indonesia, patutlah menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya agar tidak mengulanginya lagi dan menjadi perekat kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia.

Perang Diponegoro bisa dijadikan contoh bagaimana usaha penjajah menancapkan kekuasaannya di Indonesia dengan berbagai cara. Perang Diponegoro adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Perang Diponegoro me rupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa. Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak”, melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.

Usaha provokator yang meningingkan Maluku kembali rusuh paska kerusuhan Maluku tahun 1999, 2000, 2004 dan 2011 kembali berulah pada saat pelaksanaan Hari Pattimura pada 15 Mei 2012. Diduga kerusuhan tersebut terjadi karena adanya pemicu/pancingan dari provokator. Akibat kerusuhan yang melibatkan dua komunitas (Islam dan Kristen) mengakibatkan puluhan orang terluka terkana lemparan benda keras dan panah. Paska kerusuhan Hari Pattimura, Wakil Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff, mengajak seluruh masyarakat Ambon dan Maluku, supaya bersatu padu melawan provokator yang sengaja membuat daerah ini tidak nyaman. Menurutnya, masyarakat Maluku tidak boleh menyerah dengan ulah satu dua orang yang membuat daerah ini tidak nyaman. “ Masa sih kita masyarakat banyak seperti ini hanya menyerah kepada satu dua orang. Kita harus bangit bersama untuk melawan itu agar Maluku ini tetap aman. Menyinggung bentrokan yang terjadi saat peringatan hari Pattimura itu, Wagub, mengatakan, bentrokan itu memang salah satunya karena luapan kegembiraan yang terlalu berlebihan, namun tidak diatur dengan baik, sehingga berbuntut saling berkelahi. Namun begitu, hanya berselang beberapa jam saja kondisi keamanan di Ambon sudah normal kembali. “ Kita juga kedepan akan melakukan evaluasi tentang tata cara dalam memabwa obor pada HUT Pattimura tahun mendatang,” katanya.

Kembali ke topik pembicaraan. Sistem budaya Pela-Gandong merupakan ikatan persahabatan dan persaudaraan yang diaktualisasikan dalam sapaan-sapaan kekerabatan, seperti Nyong Pee, Nona Pee, Gandongee, Bongsoee, ataupun aktivitas tolong menolong dalam keadaan aman ataupun kesusahan,” ujar S.H. Maelissa, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Maluku, dalam makalahnya, “Pela dan Gandong Sebagai Bentuk Kearifan Lokal di Maluku”.
Menurut Maelissa, larangan dan kewajiban diantara warga yang ber-pela dan ber-gandong itu dipelihara dan ditaati dengan penuh tanggungjawab karena didasari adanya penghormatan atas janji dan sumpah leluhur yang telah mengikat dirinya, keluarga, bahkan negeri. Pada waktu-waktu tertentu ada Upacara Panas Pela atau Panas Gandong, yaitu upacara adat perekat hubungan persaudaraan yang berusaha terus menghidupkan ingatan-ingatan tentang kebersamaan di antara mereka.

Maelissa juga menyebut adanya Perserikatan Kida Bela di Kepulauan Tanimbar (Maluku) yang maknanya hampir sama dengan Pela atau Gandong. “Kida Bela sanggup membuat orang tidak berkelahi, tidak melakukan tindakan yang mengakibatkan keresahan dalam masyarakat,” urai Maelissa. Caranya, pada waktu-waktu tertentu diselenggarakan upacara Fangla Kida untuk mengingatkan kembali peristiwa sejarah itu meskipun untuk mengetahui kapan upacara itu dijalankan diperlukan kajian tersendiri.

Selain itu, ada pula Yaan Warin Rinun, ikatan yang terjadi antarindividu atau antardesa yang dilatarbelakangi peristiwa tolong-menolong pada waktu bencana alam, paceklik, atau kesusahan lain. Hubungan yang terjadi bukan atas dasar ikatan kekeluargaan, ini sanggup membuat semua orang di dalamnya hidup rukun dengan prinsip tolong-menolong.

Masyarakat Kei di Maluku Tenggara mengenal ikatan tea (artinya menggores) bel (darah mengalir), yakni ikatan perjanjian persahabatan diantara desa yang dilakukan dengan goresan darah. Di kepulauan Aru, ikatan serupa disebut bela atau jabu. Makna kemanusiaan dari semua bentuk ikatan kekerabatan itu adalah tolong-menolong, tenggang rasa, saling percaya, dan persaudaraan.

Khususnya Ambon, Uliase, dan Seram mengenal jenis Pela Tuni dan Gandong. Pela Tuni diartikan sebagai “Pela Murni” atau Pela sebenarnya. Pela Tuni terbentuk dengan mengambil sumpah persaudaraan melalui minum darah dari pemimpin-pemimpin negeri/desa. Melalui upacara itu, kedua belah pihak menjadi saudara sedarah dan diharuskan saling membantu seolah-olah mereka lahir dari satu ibu.

Pela Gandong pada dasarnya merupakan sebuah perjanjian yang menjadi budaya kebanggan masyarakat Maluku. Perjanjian ini menyangkut relasi persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain baik yang sedaratan atau berlainan pulau. Hal ini berlaku juga antara etnis dan agama yang berbeda. Pela sendiri berarti perjanjian sedangkan gandong sendiri berarti adik.

Pela Gandong memiliki arti sakral bagi masyarakat Maluku Tengah. Pada saat upacara sumpah berlangsung, beragam senjata dan alat-alat tajam lainnya dicelupkan kedalam campuran tuak dan darah dari masing-masing pemimpin yang mengikat perjanjian. Air tersebut lalu diminum oleh kedua pihak dan menjadi dasar bahwa kedua pihak sedarah dan terikat dengan perjanjian.

Saat ini, Pela-pela tersebut masih dipertahankan. Umumnya terdapat tiga jenis pela. Pertama Pela Keras, yakni Pela yang timbul akibat suatu kejadian atau peristiwa yang sangat penting untuk melawan peperangan atau pertumpahan darah.

Kedua, Pela Gandong atau Bungso yang timbul karena adanya ikatan hubungan keturunan. Biasanya diantara pemimpin satu pihak memiliki hubungan keturunan ataupun diantara beberapa keluarga menganggap diri mereka sebagai satu garis keturunan. Ketiga, Pela Tempat Sirih yakni timbulnya Pela akibat sebuah peristiwa yang kurang begitu penting atau karena suatu negeri berjasa terhadap negeri lain dalam hal perdamaian dan perdagangan.

Masing-masing Pela yang ada saat ini mengandung keterikatan yang kuat karena masing-masing pihak memiliki kewajiban yang harus dipenuhi. Seperti saling membantu pada saat genting dan mendesak seperti bencana alam dan peperangan.

Wajib membantu jika diminta demi kepentingan kesejahteraan umum seperti membangun sekolah, rumah ataupun tempat ibadah. Wajib melayani jika masing-masing pihak berkunjung serta tidak diperbolehkannya ikatan perkawinan bagi masing-masing pihak karena sudah dianggap sedarah, kecuali pada Pela Tempat Sirih.

Pela Gandong memang menjadi kultur yang berbudi luhur dan memiliki nilai moral yang tinggi bagi masyarakat. Sejarah pun mencatat bahwa konflik agama di Maluku beberapa tahun silam berhasil diminimalisir dengan adanya perjanjian tersebut. Oleh karena itu, budaya Pela Gandong ini patut dilestarikan dan dihidupkan kembali. Khususnya pada generasi penerus demi terciptanya perdamaian di bumi nusantara ini.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s