West Papua : KNPB Miliki Bahan Peledak untuk Mengacaukan Papua

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang berdiri pada 9 November 2008 ini mulai aktif menyuarakan-menyuarakan aspirasi menentang kebijakan Pemerintah Pusat di Papua dengan suara lantang baik berunjuk rasa menggerakkan massa dan seruan-seruan di situs propaganda yang bernama www.knpbnews.com berupa perlawanan terhadap aparat pemerintah pun tak kalah kencang, seperti yang disebutkan dalam salah satu berita artikel yang mereka buat yakni ‘wakil ketua KNPB Mako Tabuni tewas tertembak aparat militer’ atau ‘video pembakaran rumah warga Wamena oleh TNI’ dan lain sebagainya. Bukan hanya aparat yang disudutkan, mereka pun menyebut Indonesia sebagai penjajah.

Namun demikian, yang menjadi pertanyaan adalah murnikah segala pergerakan yang dilakukan KNPB yang mengatasnamakan rakyat Papua, mengapa demikian, pasalnya suara-suara lantang menentang pemerintah untuk merdeka kini telah mengarah kepada tindak kriminal dikarenakan tanggal 28 September 2012 aparat Kepolisian Jayawijaya melakukan penggeledahan terhadap kediaman Aktivis KNPB, Philemon Elosak, di Kampung Siba Distrik Wosilimo setelah mendapatkan laporan dari Paul Elosak (warga Kampung Isaima Distrik Wosilimo) bahwa Philemon Elosak menyimpan serbuk yang diduga bahan peledak di kediamannya. Dalam pengeledahan tersebut aparat kepolisian berhasil menyita sejumlah barang bukti antara lain, 20 Kilogram serbuk belerang, 5 kilogram serbuk berwarna coklat (diduga campuran bahan peledak), 2 kilogram serbuk (diduga bahan peledak) yang belum dicampur, 1 buah buah batangan dibungkus kertas timah berukuran 5 cm serta mengamankan Philemon Elosak.

Hasil interogasi terhadap Philemon Elosak diperoleh keterangan bahwa serbuk yang disimpan tersebut milik Lanny Huby (Wakil Sekretaris KNPB wilayah Baliem) yang dibawa oleh Michael Wetipo pada 12 Agustus 2012, rencana peledakan disampaikan Lanny Huby pada saat rapat tertutup KNPB di Kampung Purno Distrik Assologaima Kab. Jayawijaya, rencananya peledakan secara serentak dilaksanakan beberapa tempat antara lain Kodim 1702 Jayawijaya, Polres Jayawijaya, Batalyon 756/WMS, Jembatan Pikey, Kantor Kelurahan serta Kantor Subdenpom. Sedangkan bahan peledak disimpan di 3 titik diantaranya Posko KNPB Kampung Abusa Distrik Kurulu, Posko KNPB Kampung Elabukama Distrik Musafak dan Posko KNPB Honai Lama Distrik Wamena Kota.

Tidak berhenti pada pemeriksaan di rumah Philemon Elosak, tetapi juga aparat kepolisian melakukan penggeledahan di Sekretariat KNPB Baliem, Jalan Patimura, Kompleks Potikelek (Honai Lama) Distrik Wamena Kab. Jayawijaya dan menemukan sejumlah barang bukti antara lain : 1 buah kaset CD Papua Merdeka, 1 bahan peledak yang diletakan didalam wadah alumunium tempat tinta Daito, 1 buah wadah bahan peledak ukuran pasta gigi, 1 buah bahan peledak yang sudah dirakit dalam botol minuman suplemen M-150, 2 buah detonator dan uang sebesar Rp. 5.500.000, 1 buah bendera Bintang Kejora, 1 buah stempel KNPB, 1 buah kapak, 8 buah parang, 3 ikat anak panah, 1 senapan angin, 3 buah laptop merk Toshiba serta 2 buah flash dish, 2 printer dan 1 kamera digital merk benq, 2 buah handycamp merk Sony dan 5 buah HP Nokia, 2 buah bendera KNPB, 1 bendera warna hijau bertuliskan Human Right, 3 liter bensin, 10 buah kartu anggota KNPB dan beberapa dokumen KNPB, 1 buah pipa sepanjang 1 meter serta menangkap delapan anggota KNPB antara lain, Janus Wamu (Sekjen KNPB Wilayah Baliem), Eddo Doga, Irika Kosay, Jusuf Hiluka, Yan Mabel, Amus Elopere, Wioge Kosay dan Melias Kosay.

Lalu, benarkan pola pergerakan seperti itu yang katanya mengatasnamakan rakyat Papua namun jika dilihat berdasarkan pemeriksaan tersebut adanya rencana peledakan di beberapa tempat, justru hal tersebut akan memakan korban orang Papua itu sendiri. Ironis, KNPB yang gencar menyuarakan dan menyudutkan pemerintah Indonesia yang mengatakan Indonesia melakukan ‘genosida’ terhadap orang Papua, justru dengan temuan bahan peledak itu maka masyarakat dapat membuktikan siapa yang melakukan ‘genosida’ dan meresahkan masyarakat dimaksud. Selain itu, temuan bahan peledak di rumah aktvis KNPB menunjukan bahwa KNPB mulai menerapkan cara-cara teror peledakan dan kekerasan dalam memperjuangkan ide-ide separatis Papua di kalangan masyarakat Pegunungan Tengah Papua yang merupakan pendukung mayoritas KNPB.

Dalam era demokrasi di Indonesia untuk menyuarakan aspisari sudah diatur oleh Undang-Undang, akan tetapi apabila dalam menyuarakan aspirasi tersebut baik individu maupun lembaga swadaya masyarakat tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka aparat terkait akan melakukan tindakan seperti yang terjadi kepada KNPB dan para aktivisnya dimana sudah mengarah kepada melakukan tindakan meresahkan masyarakat dengan menyimpan bahan peledak.

Jadi masih kah pantas KNPB yang diklaim ‘pejuang’ aspirasi rakyat Papua mendapat simpati baik di Papua maupun NGO Internasional dengan segala ‘bualan-bualan’ omong kosongnya  tentang Papua. Jelas kriminal tetaplah kriminal dan harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s