MENATA DAN MENGEMBANGKAN PERDAMAIAN DI MALUKU: TANGGUNGJAWAB BERSAMA AGAMA-AGAMA

Bersyukur kegiatan Lembaga Antar Iman Maluku yang secara sadar dan terus-menerus mengembangkan kesadaran masyarakat tentang kemajemukan pada satu pihak dan menjadikan agama sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk perdamaian. Pengalaman konflik yang lalu mengajarkan kita bahwa perdamaian tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus terus diupayakan. Sebagai masyarakat majemuk, potensi konflik selalu ada. Tantangan yang kita hadapi adalah bahwa orang tidak atau belum terbiasa menerima apalagi menghargai perbedaan. Kita memang perlu mencari persamaan dan sudah banyak persamaan yang dapat diungkapkan. Tetapi kita tidak boleh berhenti di situ, kita harus juga terus mengembangkan penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan yang masing-masing kita miliki. Karena kita tidak lagi hidup dalam dunia yang homogen, yang seragam. Globalisasi, kemajuan iptek dan modernisasi di segala bidang hidup menyebabkan mudahnya terjadi perpindahan penduduk dari satu daerah dan negara ke daerah atau negara lain, sehingga percampuran antar manusia dari berbagai suku, ras dan bangsa maupun berbagai budaya, dan agama bertemu dan bercampur menjadi satu. Dalam skala kecil, kita alami itu di kota Ambon manise ini.

Kemajemukan Sebagai Kebenaran Teologis

Kemajemukan adalah sebuah kenyataan sosial yang tak terbantahkan. Orang Maluku yang mendiami kota Ambon adalah majemuk, ia berasal dari berbagai wilayah dengan beragam budaya di Maluku. Selain itu ada suku-suku lainnya dari seluruh Nusantara, bahkan dari berbagai ras. Dari sisi agama, bukan saja agama Kristen dan Islam, melainkan juga agama Hindu, Buddha dan Khonghucu. Dan saya yakin bahwa kemajemukan adalah juga suatu kebenaran teologis. Kemajemukan merupakan bagian dari tata ciptaan Ilahi. Adalah Tuhan sendirilah yang menciptakan manusia secara berbeda-beda, menempatkan mereka pada tempat yang berbeda pula dan karena itu cara mereka berespons terhadap Allah juga berbeda-beda.

Pluralitas dengan demikian adalah sebuah kekayaan yang berasal dari Allah. Kemajemukan itu indah dan memperkaya kehidupan bersama apabila dikelola secara positif dan konstruktif. Seperti halnya warna-warni pelangi, yang menjadi sangat indah apabila warna-warni yang beragam itu diletakkan bersama-sama. Kalau berdiri sendiri-sendiri dia justru kehilangan keindahannya. Dengan kata lain, manusia yang berbeda dalam berbagai hal itu kalau mereka bisa hidup bersama dengan rukun maka mereka akan membuat kehidupan menjadi sangat indah, harmonis dan penuh kebahagian. Sama seperti sebuah keluarga yang terdiri dari Ibu, bapak dan anak-anak dengan karakter masing-masing. Perbedaan yang ada di antara mereka membuat keluarga itu bahagia. Dan itulah yang dikehendaki oleh Tuhan, Pencipta langit dan bumi.

Sayangnya hal ini tidak selalu terjadi. Yang seringkali terjadi justru perbedaan dan keragaman menjadi sumber saling curiga, saling tidak percaya, bahkan saling membenci. Oleh karena itu dunia yang semakin plural ini semakin hari menjadi dunia yang semakin menakutkan, akibat berbagai kekerasan yang dilakukan atas nama perbedaan, baik itu perbedaan ras, agama maupun budaya. Fenomena multi agama dan multi ras akan semakin menjadi ancaman bagi hidup bersama umat manusia dan bagi seluruh makluk hidup pada umumnya apabila hal ini tidak ditangani secara baik. Kehancuran inilah yang harus kita cegah. Bumi harus dapat dilihat sebagai rumah tempat kita hidup bersama. Dan cuma ada satu bumi. Di sinilah kita berbagi hidup dan karena itu bumi ini harus aman dan sejahtera bagi semua kita. Juga daerah Maluku dan Indonesia, yang tadinya dilanda konflik harus dipulihkan kondisinya dan kerukunan masyarakatnya sehingga menjadi tempat hidup yang aman dan sejahtera bagi seluruh penduduknya. Upaya-upaya perdamaian dan rekonsiliasi itu tidak bisa dihindarkan. Hukumnya wajib itu, sebab Tuhan menghendaki kita melakukannya. Oleh karena itu kita harus bekerja keras ke arah itu.

Agama Adalah Untuk Kebaikan Seluruh Makhluk, di Dunia dan Akhirat

Manusia dapat dikatakan makhluk ciptaan Tuhan yang termulia tetapi bukan satu-satunya makhluk. Di samping manusia ada binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Manusia adalah makhluk yang berakal budi karena itu ia dapat berpikir, merencanakan masa depan dan dapat berusaha untuk mewujudkan/ merealisasikan rencananya itu. Ia tidak hanya pasrah kepada keadaan, melainkan mengubah keadaan, dari ancaman menjadi peluang, dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Manusia juga memiliki kesadaran tentang yang ilahi, kesadaran tentang Tuhan Yang Mahakuasa, yang kepada-Nya manusia harus memberi pertanggung-jawaban atas seluruh hidupnya. Karena itu ia beragama, melakukan kewajiban agamanya dengan sungguh. Tetapi seringkali, kewajiban agamanya dikaitkan hanya dengan Tuhan dan akhirat. Karena itu kewajiban agama yang paling bernilai dan cenderung satu-satunya adalah ibadah.

Sejalan dengan itu membangun rumah ibadah dilihat sebagai tanggung jawab mulia. Ini tentu tidak salah, tetapi bukan satu-satunya. Sebab yang disebut ibadah itu bukan saja ibadah ritual melainkan juga ibadah sosial. Kewajiban agamanya berkaitan pula dengan sesama makhluk, kini dan di sini, yaitu bagaimana hidupnya menjadi lebih berarti, bermanfaat dan lebih berkualitas. Tuhan menghendaki supaya manusia bukan saja akan selamat di akhirat, melainkan dapat juga menikmati hidup yang berbahagia bersama sesamanya di bumi ini. Karena itu ada banyak janji berkat dari Tuhan untuk kehidupan di bumi. Sama seperti juga ada banyak peringatan, teguran dan penghukuman yang akan dialami sekarang dalam hidup kita di bumi ini dan bukan hanya nanti di akhirat. Karena itu mengambil tanggungjawab untuk membuat hidup di bumi lebih baik, lebih aman, damai dan sejahtera harus dilihat sebagai kewajiban agama yang sama mulianya. Membangun perdamaian, keadilan dan kesejahteraan bersama adalah kewajiban agama atau panggilan iman kita sekarang ini.

Apa yang Perlu dan Dapat Dilakukan

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan bersama untuk menata dan mengembangkan perdamaian dalam masyarakat dan bangsa kita.

1. Kita memerlukan pemimpin dan tokoh yang memiliki wawasan yang terbuka, seorang pluralis dengan kesadaran kebangsaan yang kokoh. Seorang yang memiliki kematangan moral dan spiritual sehingga mampu memberi teladan dalam kata dan perbuatan bagi umatnya, terutama di saat-saat yang kritis. Hal ini sudah dilakukan saat-saat pilkada, dan kita akan songsong Pemilu tahun 2009. Agama harus menjadi sumber motivasi dan inspirasi perdamaian dan karena itu harus dijaga supaya agama tidak digunakan sebagai alat oleh kekuatan sosial politik manapun.

2. Kita harus mampu melakukan penyadaran kepada seluruh umat kita bahwa perbedaan yang ada di antara kita itu adalah sesuatu yang wajar, yang kodrati, yang berasal dari Allah, karena itu harus dirayakan. Dengan merayakannya maka kita mampu untuk menemukan dan mengapresiasi sisi positif dan kekayaan dari semua elemen yang berbeda dalam masyarakat dan memanfaatkannya untuk menjadi kekayaan bersama bagi semua. Dengan mengapresiasi kekayaan dan kekuatan dari setiap unsur yang berbeda maka kitapun akan lebih mampu untuk belajar dan memanfaatkannya untuk kepentingan bersama kita. Jadi perbedaan tidak boleh membuat kita bermusuhan tetapi sebaliknya harus membuat kita mampu menjadi sahabat karena kita saling belajar dari kekuatan-kekuatan yang ada untuk kepentingan bersama.

3. Bagi kita di Maluku yang pernah terlibat dalam konflik di mana orang-orang Islam dan Krsiten saling berhadap-hadapan, maka kita harus mampu untuk membangun kembali rasa persahabatan dan persaudaraan dengan lebih dulu saling memaafkan. Hal ini memang tidak mudah. Tetapi kita harus berusaha melakukannya dengan meminta kekuatan dari Tuhan sendiri, Sebab Tuhan yang kita percaya adalah Tuhan yang menghendaki agar damai sejahtera diberlakukan dalam hidup kita bersama. Dalam rangka membangun rasa persahabatan dan persaudaraan itu maka pertemuan antara komponen ke dua kelompok agama harus sering dilakukan. Dengan sering bertemu, akan timbull saling mengenal, dari saling mengenal akan timbul rasa persahabatan. Mungkin untuk itu harus juga dibuat program-program kerja bersama untuk kedua kelompok agama, seperti membersihkan desa bersama-sama, membangun rumah ibadah atau baileo maupun gedung sekolah pada desa-desa bertetangga yang dapat dilakukan secara masohi. Bisa juga dibuat lomba-lomba antar desa seperti pertandingan volley persahabatan dst.

4. Rasa persahabatan juga bisa dibangun dengan duduk bersama dan membicarakan rasa curiga di antara kita dalam rangka untuk mengatasinya. Haruslah disadari dan diakui bahwa rasa curiga antar kelompok agama yang berbeda sangatlah kuat dan berurat akar. Oleh karena itu kelompok-kelompok agama yang berbeda gampang digunakan oleh pihak lain untuk saling berkelahi akibat kecurigaan dimaksud. Rasa curiga ini harus dibuka dan dibicarakan bersama bukan untuk semakin saling memarahi tetapi untuk mencari jalan keluar untuk diatasi. Jadi harus ada pertemuan di mana kedua kelompok bisa duduk bersama dan mengungkapkan rasa curiga yang ada dan setelah itu mengambil keputusan untuk menguburkan rasa curiga itu, baik rasa curiga akibat warisan tradisi, akibat ajaran agama, akibat rasa diperlakukan tidak adil, dst. Kita harus mampu membahasnya secara terbuka dan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah itu. Banyak ketidakpuasan akibat rasa curiga bisa berakhir pada saling memendam kebencian dan akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan yang tidak terkendali. Kegiatan membicarakan dan mengatasi rasa curiga ini bisa dilakukan diantara kelompok kaum muda atau kelompok perempuan. Untuk itu diperlukan fasilitator yang menolong untuk mengarahkan pembicaraan dan mencari jalan keluar apabila pembicaraan menjadi panas dan saling menuduh. Untuk itu para mediator yang ahli di bidang ini bisa diundang untuk membantu. Para peserta dari pertemuan seperti ini harus mampu menularkan persahabatan dan rasa saling percaya kepada kelompok lainnya. Mereka juga diharuskan untuk merancang proyek bersama untuk satu dengan yang lain untuk terus menghidupkan rasa persahabatan itu.

5. Umat dari agama yang berbeda harus disadarkan untuk tidak cepat mempercayai provokasi. Dalam kaitan itu tindakan-tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak manapun harus dilihat dan diperlakukan sebagai masalah hukum dan kriminal, dan jangan diperlakukan sebagai masalah agama atau masalah suku dan ras. Oleh karena itu biarlah para penegak hukum menyelesaikan masalah itu dan jangan kita terdorong untuk campur tangan hanya karena pelanggar hukum itu berasal dari kelompok agama atau suku kita. Ini bisa memperparah masalah dan melibatkan kelompok-kelompok berbeda agama, atau suku sehingga masalah menjadi sulit untuk diselesaikan. Oleh karena itu segala sesuatu, termasuk provokasi atas nama agama atau suku, harus dihadapi dengan kepala dingin dan selalu check dan recheck mengenai kebenaran masalahnya.

6. Agama harus diposisikan kembali sebagai sumber inspirasi bagi perdamaian dan rekonsiliasi. Jadi kalau ada orang yang bilang kepada orang Kristen bahwa ada orang Islam yang melecehkan agama Kristen, maka orang Kristen mesti bisa tahan diri untuk tidak segera percaya dan melakukan kekerasan. Begitu pula sebaliknya. Sebab kalau kita cepat terprovokasi untuk berbuat kekerasan maka kita telah menjadikan agama kita sebagai sumber kekerasan. Padahal tidak ada satu agamapun yang menghendaki itu. Yang ada adalah penafsiran yang keliru dan berat sebelah terhadap ajaran-ajaran agama. Oleh karena itu pendalaman agama harus dilakukan. Kita harus membaca Kitab Suci kita masing-masing secara lebih teliti dan lebih menyeluruh dan bukan membacanya secara harafiah. Dan kalaupun betul terjadi pelecehan terhadap agama maka hal itu mesti dibawa untuk diselesaikan secara hukum. Sebab pelecehan dalam bentuk apapun adalah masalah hukum yang harus ditangani pula secara hukum.

7. Perlu mengembangkan rasa hormat dan toleransi kepada agama lain. Kita harus menghindari kata-kata, maupun sikap yang tidak menghargai dan menyinggung saudara-saudara agama lain. Umpamanya kalau orang dengan agama lain sedang beribadah, maka sedapat-dapatnya kita menjaga ketentraman dan ketenangan supaya mereka bisa beribadah dengan baik. Perayaan ataupun aktivitas keagamaan harus dilihat sebagai kesempatan untuk saling belajar. Misalnya, puasa bagi saudara-saudara Muslim. Kita yang Kristen harus bertekad untuk mendukung mereka dalam ibadah puasa ini. Jadi jangan makan di depan mereka di saat puasa, kecuali kalau anda sudah sangat lapar dan kalau perlu minta maaflah dan jelaskan kondisi anda sebelum makan. Sering juga mereka tidak merasa terganggu karena mereka cukup kuat. Tapi demi rasa persaudaraan baiklah kita mengembangkan rasa hormat, dan santun. Demikian juga jangan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan kepercayaan ataupun cara beribadah agama lain. Ingatlah hanya penganut suatu agama yang tahu persis apa isi ajaran dari agamnya. Orang luar hanya tahu sedikit tentang agama itu. Karena itu hindari diri dari mengecam agama lain tanpa tahu apa isi kepercayaan dari agama itu.

8. Sering juga masalah rasa ketidakadilan ekonomi menjadi pemicu dari konflik antar agama. Karena itu masalah ketidakadilan ekonomi harus dijadikan masalah bersama kita yang harus kita atasi bersama-sama demi kepentingan bersama.

9. Masalah pelanggaran hak-hak azasi manusia juga harus menjadi masalah bersama untuk diatasi bersama. Pelanggaran hukum adalah pelanggaran hukum dan bukan masalah agama. Hanya dengan demikian rasa saling percaya bisa terbangun dan persahabatan bisa semakin kokoh, sehingga tidak gampang terprovokasi.

“No human life together without a world ethic for the nations;
No peace among the nations without peace among the religions;
No peace among the religions without dialogue among the religions”
(Hans Kung, Global Responsibility)
Dikutip dari ceramah yang disampaikan oleh Pdt. Dr. I. W. J. Hendriks pada Seminar Studi Agama-Agama, Ambon 25 November 2008

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s