OPM : Goliath Tabuni kembali nodai kedamaian di Tanah Papua

OPM03

Seiring berjalannya waktu, pembangunan Papua menuju masyarakat sejahtera terus diupayakan oleh Pemerintah Indonesia dengan memberikan kebebasan untuk mengatur daerahnya sendiri sesuai dengan amanat UU Otsus. Hal ini diwujudkan dalam berbagai kebijakan, termasuk dalam pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat.

“Apa yang menjadi perhatian pemerintah adalah mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. Karena itu, dibentuk UP4B. Ini bukan lembaga untuk melakukan penyelesaian politik, melainkan khusus bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Bina Graha. Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan terpisah, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah Velix Wanggai (Putra Asli Papua) menjelaskan, menyelesaikan masalah Papua merupakan target Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada sisa kepemimpinannya. Ini diwujudkan dengan dimasukkannya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Meskipun demikian, dalam melaksanakan pembangunan di Papua. Pemerintah tetap memberikan perhatian pada kekhasan Papua sebagaimana diatur dalam otonomi khusus Papua. “Daya saing dan daya adaptasi masyarakat asli Papua yang berbeda dengan pendatang menyebabkan ketidakadilan dalam akses dan kesempatan dalam proses pembangunan serta keterlibatkan di struktur pemerintahan,” ujar Velix.

Selain itu upaya pemerintah memberikan rasa aman terhadap masyarakat Papua utuk melakukan aktivitasinya terus diupayakan dengan melakukan upaya penegakan hukum yang tegas untuk memberikan rasa aman kepada rakyat Papua sehingga mereka terlindungi dari segala bentuk teror dan kekerasan. Beberapa tokoh Papua juga menyatakan bahwa Papua merupakan tanah yang damai, bahkan kelompok aktivis Papua juga sepakan menyatakan ”Papua Zona Damai”.

Untuk mewujudkan rasa aman kepada masyarakat Papua, Pemerintah sepakat melakukan pendekatan kesejahteraan tanpa kekerasan dalam menyelesaikan masalah Papua. Namun ketika Papua telah telah dinyatakan damai dan mayarakat mulai menata kehidupan menuju kesejahteraan, kedamaian Papua kembali ”ternoda” oleh sekelompok orang yang mengatakan pejuang Papua Merdeka. ”memang betul Papua ingin merdeka, tetapi merdeka terhadap kemiskinan, kebodohan dan kesehatan, bukan merdeka menjadi sebuah negara, apalagi dengan mengorbankan rakyat” ungkap Ketua BEM UNCEN Paul Numberi. Anggota Kaukus Parlemen Papua dari FPG DPR Agustina Basik mengatakan ”masyarakat Papua mau merdeka, tapi merdeka dari kebodohan dan kemiskinan dan bukannya dari NKRI”.

Namun penembakan brutal yang dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Goliath Tabuni telah merusak kedamaian Papua yang selama ini dijaga oleh seluruh elemen rakyat Papua. Banyak pihak mengutuk perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, termasuk masyarakat asli Papua yang mengutuk penembakan brutal tersebut.

Pada Rabu kemarin terjadi dua kali penyerangan. Penyerangan pertama terjadi sekitar pukul 09.30 WIT, di Distrik Tingginambut. Satu tentara tewas, satu lainnya terluka. Sementara, pada penyerangan ke dua di Distrik Sinak menyebabkan tujuh tentara tewas. Sehingga, ada 8 tentara tewas dalam dua serangan ini. Pada pukul 08.00 WIT, tiga dari delapan pekerja sudah berada di lapangan terbang Sinak menunggu kedatangan pesawat. Sedangkan lima lainnya masih dalam perjalanan menuju lapangan terbang. Mereka berjalan tidak jauh dari rombongan 12 anggota TNI yang akan mengambil logistik ke Bandara Illaga.

Di tengah perjalanan, terjadilah penyergapan oleh kelompok bersenjata terhadap 12 anggota TNI. Penembakan itu membuat lima pekerja bangunan yang berada tidak jauh dari rombongan TNI itu menjadi panik. Mereka berusaha mencari tempat berlindung, namun tidak berhasil. Sehingga, empat di antaranya tertembak dan tewas. Empat warga sipil yang meninggal dunia itu adalah Yohanis Palimbong (pengawas proyek), Markus Cavin Rendenan/ Payu, Uly, dan Rudy.

Sudah saatnya masyarakat Papua merenung dan sadar apakah kelompok OPM pimpinan Goliat Tabuni dan Militer Murib yang terbukti terus melakukan pembunuhan secara biadap masih layak disebut pejuang rakyat Papua? ”tentu saja tidak !”. Masyarakat Papua ingin hidup damai dan sejahtera, apapun permasalannya rakyat Papua menginginkan penyeselesaian dengan cara-cara damai, arif dan bijaksana bukan dengan ”moncong senjata”.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s