Masyarakat Maluku tidak lagi dukung RMS

rms01

Sejak dibentuk oleh Dr. Chr. Soumokil pada 25 April 1950 di Ambon, sampai saat ini upaya RMS untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) RMS terus mengalami penurunan. Pada masa kerusuhan yang terjadi pada 1999 di Maluku, Dr. Alex Manuputty bangkit dan membentuk Forum kedaulatan Maluku (FKM ) yang belakangan di ketahui di tunggangi oleh RMS namun . Dalam aksinya Dr. Alex Manuputty membentuk jaringan dan organisasi yang melibatkan pemudah tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk menyuarakan ketidakadilan dan pembantaian yang terjadi di Maluku yang di anggap melanggar Ham dan hak masyarakat Maluku. Perjuangan Alex tercium oleh pemerintah NKRI sebagai perbuatan makar di Maluku sehingga pada Oktober 2002, Alex ditangkap bersama Semmy Weleruny sebagai tersangka dan di jatuhi hukuman 4 bulan penjara. Pada tahun 2003, Alex berangkat ke Jakarta untuk mengajukan Kasasi di Mahkama Agung, sambil menunggu keputusan Kasasi Alex mempergunakan kesempatan untuk kabur ke luar Negeri (USA) sampai sekarang.

Meskipun perjuangan FKM/RMS di Ambon di teruskan oleh Semmy Waeleruny yang di tunjuk Alex sebagai pemimpin untuk menjalankan visi misi FKM/RMS di Maluku, namun masyarakat Maluku tidak mudah terprofokasi bahkan kelompok mereka mendapat kencaman keras dari masyarakat Maluku, seperti dalam insiden penyusupan anggota RMS dalam acara Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-24 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di sekitar Masjid Al-Fatah, Ambon, Maluku, pada 30 Juni 2007, ratusan orang dari berbagai elemen berdemonstrasi, mereka menentang penyusupan tersebut. Demonstran kemudian melanjutkan aksi ke pusat Kota Ambon, sembari mengajak masyarakat mewaspadai gerakan kelompok separatis RMS di lingkungan masing-masing. Tak hanya di Ambon, aksi mengutuk gerakan RMS juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Puluhan mahasiswa asal Maluku yang tergabung dalam Gerakan Nasional Antiseparatis berunjuk rasa di depan Monumen Pembebasan Irian Barat dan an sebagai wujud protes, mereka membakar simbol bendera RMS.

Selain itu, dalam keterangan yang diperoleh dari narapida yang dihukum atas keterlibatannya dalam perjuangan RMS juga mengatakan bahwa perjuangan mereka selama ini tidak dihargai oleh tokoh-tokoh FKM/RMS seperti adanya kunjungan dari simpatisan/pendukung dari FKM/RMS ke Lapas atau bantuan materi terhadap keluarga mereka. Hal ini memperjelas bahwa perjuangan mengatasnamakan FKM/RMS semakin lemah dan terkuak bahwa perjuangan memerdekan diri dari NKRI adalah untuk kepentingan pribadi.

Kesadaraan wawasan kebangsaan masyarakat Maluku dapat menjadi kekuatan untuk mencegah berkembangnya kekuatan separatis. Selain itu, masyarakat juga meminta kepada jajaran Penegak hukum agar terus melakukan tindakan tegas dan konsisten terhadap orang-orang yang terbukti melakukan tindakan ”makar” yang akan mengganggu stabilitas wilayah Maluku khususnya Kota Ambon.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s