Penolakan Bendera Bulan Bintang Meluas

tolak bdr gam

Takengon. Penolakan terhadap bendera bulan bintang dan lambang burak singa yang disahkan dalam bentuk qanun (peraturan daerah) meluas di Aceh. Pembakaran terhadap bendera bulan bintang juga mulai terjadi.

Sejumlah masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Kota Langsa dan Aceh Tenggara mengibarkan Bendera Merah Putih sebagai wujud kesetian terhadap NKRI dan menolak Qanun Wali Nangroe, Bendera dan Lambang Aceh.

Di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, misalnya, Kamis (4/4), sekitar 2.000 orang warga Aceh Tengah dan Bener Meriah menamakan dirinya Pembela Tanah Air (Peta) konvoi membawa Bendera Merah Putih sebagai bentuk penolakan terhadap bendera Aceh yang sangat mirip dengan bendera organisasi separatis, Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Massa selanjutnya berkumpul di depan GOS Takengen, tidak jauh dari Kantor Bupati dan DPRK Aceh Tengah. Selain beroperasi, massa membakar bendera bulan sabit.

“Kita bakar bendera simbol pemberontak ini sebagai penolakan terhadap bendera bulan bintang yang telah disahkan oleh para separatis-separatis yang menguasai Aceh. Kami rakyat ALA (Aceh Leuser Antara) siap angkat senjata untuk ini,” ungkap Cemerlang, juru bicara Peta.

Panglima Perang Peta, Said, menegaskan bahwa tidak ada logo GAM di Aceh kecuali Merah Putih.

Ketua Umum Peta, Tagore Abu Bakar, mengatakan, sejak DPR ACeh mengesahkan bendera Aceh, Peta menyatakan aktif kembali. Tujuan Peta membela NKRI dari pihak-pihak yang telah menyatakan kemerdekaan Aceh.

“Dulu mereka ingin mengibarkan bendera, sekarang telah berkibar. Seharusnya pemerintah jeli melihat persoalan ini,” katanya.

Salah seorang eks petinggi GAM, Lingga Dinsyah mengungkapkan, lahirnya bendera Aceh sesuai amanah MoU Helsinky, tapi harus disayembarakan, bukan diputuskan oleh elite-elite GAM. “Harus disayembarakan dan bukan lambang GAM,” ujarnya.

Konvoi Bendera Merah Putih juga dilakukan ratusan warga Kota Langsa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Langsa. Dengan menggunakan puluhan kendaraan, mereka berkeliling kota mengibar-ngibarkan Merah Putih.

Di Kantor DPRK Langsa masa disambut Wakil Ketua DPRK Langsa, Syahyuzar. Salah seorang pengunjuk rasa, Nasrulah dalam orasinya menyebutkan bahwa masyarakat mulai resah dengan situasi terkini.

Menurutnya, sejak Qanun Bendera dan Lambang Aceh disahkan, masyarakat takut konflik akan kembali terjadi. Karena itu, mereka minta Pemprov Aceh merevisi qanun itu.

Ribuan warga Kutacane, Aceh Tenggara juga turun ke jalan menolak qanun lambang dan bendera Aceh. Nawi Sekedang, perwakilan masyarakat Aceh Tenggara dalam orasinya meminta segera dilakukan revisi.

Mendukung

Sementara, dukungan terhadap qanun lambang dan bendera Aceh dilakukan ribuan massa di Kota Banda Aceh. Mereka meminta Gubernur dan DPR Aceh tidak merevisi qanun tersebut.

Sejumlah personel Polri dan TNI dengan senjata lengkap terpaksa menghadang ribuan massa pendukung bendera Aceh yang ingin menuju pendopo gubernur, tempat pertemuan Gubernur Aceh dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) membahas qanun tersebut.

TNI juga mengerahkan tiga unit tank tempur untuk mengantisipasi terjadinya kericuan. (mb.com)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s