“Kue” itu Bernama Papua

Situasi Politik dan Ekonomi di Tanah Papua telah menjadi objek dagang dari pihak-pihak tertentu di luar negeri atau telah menjadi posisi tawar (bargaining position) kepada pemerintah Indonesia di Jakarta. Masalah kemiskinan menjadi laporan ke lembaga-lembaga tertentu diluar negeri.
Sekelumit pernyataan tersebut sebagai bentuk keprihatinan bahwa “kue” yang bernama Papua itu, kini telah menjadi bahan ‘jualan’ oleh oknum-oknum tertentu personal maupun kelompok, untuk mencari keuntungan demi mendapatkan pundi-pundi Dollar, Poundsterling maupun Rupiah di luar negeri.

Mengutip pernyataan I. MG. Sunartha, Sekretaris Forum Konsultan Para Pemimpin Agama di Papua, menyatakan bahwa terdapat orang yang menjual kemiskinan di Papua ke luar negeri. Lembaga-lembaga yang menerima laporan itu memberikan bantuan kepada pemberi laporan. Bantuan-bantuan itu belum nampak sampai ke masyarakat Papua, namun masih berada dalam situasi yang menjadi laporan itu. Selain kemiskinan, masalah ideologi Papua Merdeka pun menjadi posisi tawar dan dimanfaatkan bagi oknum-oknum tertentu. Oknum-oknum itu menjadikan Ideologi Papua Merdeka untuk mendapatkan makan. Disamping itu, Ideologi Papua Merdeka menjadi piring makan.

Senada dengan pernyataan I. MG. Sunartha, bahwa benar ‘kue’ yang bernama Papua dijadikan ‘jualan’, berikut beberapa fakta yang ada seperti : sama halnya dengan Benny Wenda di Inggris dengan IPWP dan ILWP, Herman Wainggai juga ‘mengemis’ dollar Australia melalui wadah yang disebut West Papua National Authority (WPNA) di Australia. WPNA hanya tempat ‘kumpul-kumpul’ bagi yang minat dan simpati bagi perjuangan masyarakat Papua, fakta di lapangan tidak seperti yang dibesar-besarkan melalui media internet. Hanya segelintir orang yang partisipasi dalam WPNA, tidak lebih hanya rasa solidaritas dan tidak mendukung perjuangan mereka di Melbourne, Australia. Kebohongan terus berlanjut dengan isu Washington Solution sebagai kegiatan yang ‘katanya’ diselenggarakan di White House dan masuk dalam protokol kerja White House seperti yang dikampanyekan di tanah kelahirannya, Papua. Namun, ternyata dilaksanakan di Universitas Mason dan hasil yang dicapai pun tidak berarti. Jelas sudah sebuah kebohongan publik dilontarkan Herman kepada masyarakat Papua, maka itu gerakan dirinya selama ini tidak mencerminkan aspirasi rakyat Papua dan bersifat retorika semata. Gerakan-gerakan yang dilakukan Herman yang diakuinya sebagai perjuangan dirinya tidak lebih sebatas “mendompleng” kegiatan lain, dengan kata lain tidak murni yang diperjuangkan. Itupun berdasarkan teman-teman mahasiswa Indonesia di Melbourne menceritakan jika Herman hidupnya tidak jelas dan tergantung pada hasil “mengemis” atas nama rakyat Papua. Dollar demi dollar dikumpulkan demi menyambung hidup dan bukan niatan pergerakan yang selama ini ia dengungkan. Kalaupun ada kalangan LSM yang simpati, hanya sekedar dukungan karena aktivis akan tetapi tidak terus mendapat dukungan sepenuhnya dalam aksi-aksi maupun loby-loby yang Herman lakukan, aktivis di Melbourne tidak terlalu menghiraukan “twiit/kicauan”nya. Jadi, jelas dirinya a truely big liar for West Papua.

‘Setali tiga uang’ dengan kawannya di Inggris, Selpius Boby, salah satu penggagas Kongres Rakyat Papua III/KRP-III, dimana pada September lalu, Selpius membentuk Tim Kerja Rekonsiliasi Nasional Rakyat Papua Barat (TKRNRPB) yang tujuannya untuk menyelenggarakan KRP III, meskipun ditengah-tengah kontroversi dan polemic pro-kontra akan hal tersebut.
Menurut panitia KRP III, kongres kali ini sebagai kelanjutan dari kongres serupa yang diselenggarakan pada tahun 2000 lalu, hanya saja perbedaannya adalah pada kongres rakyat Papua kali ini, panitia tidak mengikutsertakan pihak TPN-OPM, yang selama ini dikenal sebagai front bersenjata Papua Merdeka. Namun, pada prinsipnya output akan tetap sama yakni hanya ‘pepesan kosong’ segelintir orang yang mengatasnamakan rakyat Papua dan ‘perang’ pengaruh di kalangan mereka sendiri.

Lain halnya ‘pepesan kosong’ yang ditawarkan Herman Wainggai yang saat ini kabarnya berada di Amerika melalui asylum seeker kepada orang Papua, dimulai pada bulan Januari 2006, berlayar dari Merauke dengan tujuan Australia, tetapi tersesat di Selat Torres Australia, dan ditemukan oleh Aparat Keamanan Australia di kawasan Cape York, mereka lalu diterbangkan dengan pesawat militer pada Kamis malam ke Christmas Island, sebuah pulau di kawasan Samudera Hindia di wilayah Australia. Sebanyak 43 orang masyarakat Papua tersebut menurut kesaksian beberapa pencari suaka yang sudah kembali ke Papua, menilai bahwa kehidupan mereka tak lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Ketidakjelasan nasib asylum seeker hanya ‘dimanfaatkan’ Herman Wainggai cs demi mengatasnamakan rakyat Papua, namun yang terjadi sebaliknya. Kenyataannya, dari ke-43 para pencari suaka tersebut diminta membayar Rp. 7 Juta dengan tidak adanya jaminan kesejahteraan di negeri orang. Pengakuan para pencari suaka yang telah kembali ke Papua, Indonesia, seperti Hanna Gobay, Yunus Wainggai, dan Jubel Karemi meyakinkan bahwa Herman tidak lebih seorang pembohong besar yang atas nama “asylum seeker”. Ex-korban pencari suaka yang kembali menjelaskan justru kehidupan mereka di negeri pengasingan tidak lebih dari rasa ketakutan dikejar-kejar pihak imigrasi setempat, serta kebutuhan pangan, sandang dan papan yang tidak tercukupi, berbeda dengan bujukan manis Herman saat sebelum ke Australia dengan menjanjikan sesuatunya serba kecukupan.

Fakta berbicara kawan..
Melawan Lupa!!!

Salam Damai Papua.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s