Kampanye Benny Wenda Tak Ada Pengaruhnya

Sejumlah tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Free West Papua terus melakukan manuver di luar negeri. Dimulai dengan mendirikan kabwntor di Oxford, Inggris. Kemudian direncanakan akan dibuka juga kantor perwakilan di Vanuatu, jerman dan AS. Dalam pidatonya di University of Sydney, Benny mengatakan, penindasan terus terjadi juga pembunuhan, penganiayaan dan pelanggaran HAM. Ia juga menyebut tidak ada pembangunan di Papua. Tapi Kepala Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) Bambang Darmono, membantah. “Siapa bilang Papua berdarah-darah? Lebih ngeri di Aceh. Kalau yang gitu-gitu di Papua tidak ada apa-apanya dibanding Aceh,” ujarnya.

”Bahwa di Papua dalam tanda kutip banyak gejolak, kita akui. Persoalannya, seberapa besar gejolak itu memengaruhi pembangunan. Selama itu tidak berpengaruh, ya ibarat tangan yang digigit nyamuk saja” jelas Bambang menambahkan.

Ada dua komunitas masyarakat Korowai, yaitu Korowai Batu dan Korowai Besi. Korowai Batu, hidup dalam peradaban batu, sedang Korowai Besi hidup dalam peradaban besi.

Korowai Batu itu tidak pernah didatangi pejabat. Yang pertama datang ke situ para penginjil. Setelah itu BD (sapaan akrab Bambang Darmono, red), saya. Saya juga pernah ke perbatasan di Boven Digoel – (Papua-Papua Nugini). Yang saya lihat masyarakat di sana fine-fine, happy-happy saja. Bahwa kadang ada gejolak, jangan dilihat itu seperti, maaf media massa menyebut, Papua berdarah-darah.

Saya tegaskan, di Papua tidak ada kelompok yang eksis. Kelompok yang membawa senjata pun tidak hanya satu. Bolehlah mereka mengklaim banyak atau menyatu, tidak juga. Terlalu banyak kelompok di Papua. OPM atau TPM (Tentara Papua Merdeka, red), mereka menyebut dirinya sama, tetapi faksi-faksi banyak. Tidak ada orientasi tunggal ke satu kelompok tertentu di Papua.

Benny Wenda boleh mengklaim seperti itu. Bahwa pengaruh itu pasti ada, tetapi pertanyaannya seberapa kuat ia memengaruhi keadaan di sana? Nggak juga. Struktur masyarakat Papua itu seperti trapesium. Pada umumnya struktur masyarakat kan piramidal, ada satu yang dirujuk, disegani dan ditokohkan. Tetapi di Papua, di atas itu papak (datar, red). Di atasnya titiktitik, tetapi titik-titik itu orientasinya juga nggak jelas.

Sebenarnya teriakan merdeka di Papua sudah tidak relevan. Papua menjadi bagian NKRI sudah menjadi resolusi PBB yang dihadiri 114 negara; 84 negara setuju dengan hasil Pepera; 30 negara abstain. Tak ada satu pun yang setuju Papua merdeka. Terus status politik Papua apalagi yang mau dibicarakan? Itu sudah diputuskan PBB dan sah. Kalau Benny Wenda membuat kantor di sana, namun Pemerintah Inggris tidakmendukung Benny Wenda, bahkan ditegaskan Perdana Menteri Inggris bahwa Inggris mendukung kedaulatan Indonesia dan Papua merupakan bagian integral Indonesia.

Sebelum Otsus hanya 1 provinsi dan 9 kabupaten, itu pun bupatinya tentara. Sekarang, ada 2 provinsi dengan 42 kabupaten/ kota yang kepala daerahnya asli Papua. Ini wujud adanya pembangunan di Papua. Kalau ini diinformasikan dengan baik oleh pemerintah, apa yang diteriakkan Benny Wenda nggak ada apa-apanya. Inggris pun nggak setuju. New Zealand pun akhirnya tahu fakta yang sebenarnya, dan menolak kantor perwakilan OPM berada di negaranya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s