Membedah Siasat Kelompok Papua Merdeka

sumber : artikel Kanis WK

karikatur aktivis Papua

Ilustrasi berupa karikatur yang ditampilkan Kanis (yang juga saya copas sebagai ilustrasi di postingan ini) sangat membantu kita untuk membaca ke mana arah gejolak Papua yang terjadi saat ini. Sebagai orang asli Papua yang sedang berkarya di kampung halaman sendiri, Pdt. Kanis paham betul gejolak yang sedang terjadi di tengah jemaat yang dilayaninya.
Keputusan MSG Summit
Ajang Melanesian Spearhead Group (MSG) Summit yang diselenggarakan di Noumea, New Caledonia pada 18-20 Juni lalu menjadi titik tolak ulasan Kanis. Gejolak politik di Tanah Papua memang meningkat sejak beberapa bulan sebelum, dan semakin intens pasca-MSG Summit itu. Apalagi, rekomendasi para pemimpin MSG yang beranggotakan lima negara rumpun Melanesia itu, baru akan memutuskan status keanggotaan Papua dalam MSG enam bulan mendatang, setelah delegasi MSG mengunjungi Jakarta dan Papua.
Yang patut membuat kita was-was adalah dua butir pertama dari keputusan para pemimpin MSG yang dihasilkan dalam MSG Summit Noumea itu, yakni :
• MENYETUJUI bahwa MSG sepenuhnya mendukung hak-hak asasi rakyat Papua Barat terhadap penentuan nasib sendiri sebagaimana ditetapkan dalam mukadimah konstitusi MSG;
• MENYETUJUI bahwa kekhawatiran MSG mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan bentuk lain yang berkaitan dengan kekejaman terhadap Masyarakat Papua Barat akan diajukan bersama dengan pemerintah Indonesia secara bilateral maupun sebagai kelompok;
http://zonadamai.wordpress.com/2013/06/22/inilah-keputusan-para-pemimpin-negara-msg-tentang-papua/
Roh Baru Papua Merdeka
Dua butir keputusan tersebut, telah menjadi roh baru bagi para pendukung Papua merdeka. Dengan roh baru itu mereka lalu melakukan sejumlah aksi untuk memberi bobot politik pada kunjungan delegasi MSG nanti. Pertanyaannya, siapakah para pendukung Papua merdeka itu, dan apa saja yang mereka lakukan?
Dalam karikatur di atas, Kanis memetakan mereka ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok aktor lokal/nasional, dan aktor luar negeri. Fungsi kedua kelompok juga tergambar sangat jelas. Aktor lokal/nasional bertugas melakukan gerakan dan menciptakan isu-isu sensitif. Isu-isu itu kemudian dipertajam menjadi tema-tema kampanye lalu disuarakan ke seluruh dunia oleh para pakar, akademisi, pimpinan gereja dan NGO lokal/nasional. Sementara kelompok aktor luar negeri bertugas melakukan loby-loby ke lembaga-lembaga internasional dan negara-negara tertentu dan sekaligus mencari sponsor dana. Masuknya Papua ke dalam pembahasan MSG adalah bagian dari hasil kerja para aktor luar negeri ini.
Menurut Kanis, aksi penembakan bulan Juni di Puncak Jaya oleh OPM yang menewaskan seorang anggota TNI dan seorang warga sipil itu adalah ‘hasil karya’ aktor lokal. Apalagi Goliat Tabuni (Panglima TPN-OPM) sudah mengaku bertanggung jawab atas aksi penembakan itu. http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/6073-pelakunya-kelompok-goliath-tabuni
Sehari setelah penembakan, giliran aktor nasional yang beraksi. Imparsial mengeluarkan press release bahwa dengan adanya aksi penembakan itu membuktikan bahwa “Papua masih daerah konflik”. http://zonadamai.wordpress.com/2013/06/27/imparsial-papua-masih-daerah-konflik/
Pada saat yang sama, aktivis HAM Papua (Mathius Murib) dan pimpinan Gereja KINGMI Pdt. Dr. Beny Giay sibuk menggelar jumpa pers untuk “memukul mental” aparat keamanan dengan pernyataan bahwa Bintang Kejora sebagai simbol perjuangan Papua merdeka adalah sah. Tujuannya, agar pada perayaan HUT TPN-OPM 1 Juli nanti, Bintang Kejora bisa berkibar di seluruh Tanah Papua, dan aparat keamanan tidak boleh menuduh mereka melanggar hukum. Ia meminta TNI/Polri jangan lagi menggunakan pendekatan refresif karena keinginan orang Papua untuk merdeka tidak tiba-tiba terjadi, namun melalui interaksi orang Pupua dengan Indonesia bertahun-tahun. http://tabloidjubi.com/2013/06/25/empat-orang-tewas-tertembak-sejak-30-april/
Kita tidak tahu, setelah ini akan ada gerakan apalagi yang akan dilakukan oleh para aktor. Akan tetapi kita lihat faktanya bahwa pada 1 Juli yang lalu, yang digembar-gemborkan oleh segelintir orang sebagai perayaan HUT Papua Merdeka, nyatanya tidak ada ada “GAUNG” di Papua, dan tetap Papua melakukan aktivitas secara normal dengan tidak demo-demo anarkis dan tidak aksi kibar bendera Bintang Kejora (BK). Terbukti masyarakat tidak terpengaruh isu-isu murahan dari orang tak dikenal, yang masyarakat butuhkan adalah kesejahteraan bukan kibar bendera BK, kedewasaan orang Papua semakin buktikan bahwa mereka tidak dapat dipengaruhi.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s