Markus Haluk “Habis Ngamen… Jualan Buku”

MH

Setelah Markus Haluk, Sekretaris Nasional Negara Republik Federasi Papua Barat (NFRPB), mengamen di jalanan dalam meminta sumbangan ke masyarakat Papua sebesar Rp. 5.000 s.d Rp. 50.000 per orang dengan alasan karena panitia merasa sangat kekurangan dalam hal finansial guna melancarkan dan meringankan kegiatan Hut ke – II Deklarasi Pemulihan Bangsa Papua Barat 19 Oktober 2013, kembali berjualan buku, urainya Amote seorang tokoh KNPI Papua di Jayapura, yang merasa aneh terhadap cara berpikir kalangan muda Papua sekarang ini (3/11).

Motivasi Markus Haluk sebagai pemuda yang energik untuk membangun Papua, dengan akal-bulusnya melakukan berbagai kebohongan untuk mencari-cari uang sudah perlu dipertanyakan. Sepertinya Markus Haluk sudah terkontaminasi alam pikiran Forkorus Yoboisembut, sebagai pimpinannya. Yoboisembet sebagai seorang guru, nekad meninggalkan profesinya hanya karena mimpi-mimpinya yang tidak rasional yang ingin menjadi Presiden Negara mimpi. Padahal seandainya Forkorus menekuni keguruannya, mungkin tidak terhitung lagi masyarakat Papua yang sudah menjadi sarjana. Ini malah berpolitik-khayal, yang membuktikan rasa tanggung-jawab yang tidak punya untuk membangun Papua, terangnya.

Inilah yang merasuki alam pikiran Markus Haluk, yang ikut-ikutan berkhayal, dan sedihnya lagi dimafaatkan untuk cari uang. Kalau kita berpikiran jernih, pengabdian nyata untuk membangun Papua ada di depan mata, dimana hampir seluruh anak-anak di Papua masih kekurangan guru. “Seandainyapun seluruh mahasiswa Papua menjadi guru, tenaga guru di Papua masih tetap kekurangan begitupun tenaga kesehatan. Kaum muda Papua sebenarnya tidak banyak waktu berpolitik apalagi berkhayal yang tidak-tidak. Ribuan anak-anak Papua menunggu kepedulian kita untuk membangun Papua”, imbuhnya.

Kembali saya mengajak masyarakat Papua dan secara khusus kaum muda agar merubah cara berpikir demi kemajuan Papua. “Janga berpikir aneh-aneh lah karena kita menjadi bahan tertawaan orang lain. Berpikir yang pasti-pastilah apalagi kalangan mahasiswa”, tegasnya. Dia menambahkan, kasihan masyarakat kita karena sedikit-banyak akan mempengaruhi alam pikiran masyarakat Papua, apalagi anak-anak kita karena kesalahan kita sendiri mengajari mereka dengan hal-hal yang tidak benar.

Selama ini elit-elit politik Papua dan tidak terkecuali dari kalangan akademisi, masih sering mengajak masyarakat Papua berpikiran kebelakang. Ada yang menyalahkan para tua-tua, ada yang menyalahkan PBB-lah dan banyak lagi pemikiran-pemikiran lain, yang membawa masyarakat Papua mundur jauh ke belakang, padahal didepan mata sangat banyak membutuhkan kepedulian kita untuk membawa Papua agar sejajar dengan daerah lain,seperti bidang pendidikan dan kesehatan, terangnya.

Kembali mengingatkan, alur pikiran Markus Haluk yang ngaku sebagai Sekretaris NRFPB dan kaum muda di KNPB, khususnya para mahasiswa Papua dimanapun berada, berpikir mundur dan berkhayal bukan jamannya lagi. Tetapi mari kita melakukan aksi nyata untuk berbuat yang terbaik bagi kemajuan Papua. Artinya yang mahasiswa betul-betul belajar yang baik sehingga ilmu yang diperolehnya bisa diaplikasikan di masyarakat, bukan malah menjadi politisi jalanan, apalagi mengajak-ajak masyarakat lainnya yang tidak tahu apa-apa tetang politik mimpi. Papua mandiri atau tidak, tujuan utama adalah masyarakat Papua dapat hidup aman dan sejahtera. Itu inti pokoknya. Dan satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya, memperbaiki yang sudah ada lebih pasti daripada memulai dari nol, tambahnya dalam mengakhiri perbincangannya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s