Bercermin Dari Fakta Persidangan Pengibaran Bintang Kejora di Biak

gbrpapua2

Jalannya persidangan kasus Pengibaran Bendera Bintang Kejora tanggal 1 Mei 2013 di Balai Diklat Jl. Ibdi Distrik Biak Timur di Pengadilan Negeri Biak, cukup menarik perhatian banyak pihak dengan memadati ruang persidangan (6/11).

Tepatnya pukul 10.30 WIT, saat rombongan para Hakim memasuki ruang persidangan, yang dipimpin Hakim Ketua, Demon Sembiring, SH, bersama 2 orang rekannya, langsung membuka jalannya persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi a. n. BY(Satpam diklat), dan TM (Pegawai diklat). Sidang terdakwa a.n Oktovianus Warnares, George Simyapen, Jantje Wamaer, Yosep Arwakon, Markus Sawias dan Yohanis Boseren dibagi dalam 3 sesi persidangan.

Dalam keterangan saksi BY dan TM, menjelaskan bahwa peristiwa upacara dan pengibaran Bendera Bintang Kejora di Halaman Balai Diklat Biak Timur karena dipaksa dua orang Papua berambut gimbal yang tak dikenal dengan membawa parang serta merampasi HP milik mereka. Dibawah ancaman parang dua orang tak dikenal tersebut, peserta diklat yang berada di Balai Diklat, dipaksa menuju lapangan halaman diklat untuk ikut upacara. Dan ternyata di halaman diklat sudah ada orang tak dikenal lainnya, menaikkan Bendera Bintang Kejora. Tidak cukup sampai disitu, setelah upacara selesai dipaksa lagi melakukan pengisian nama dan tanda-tangan daftar hadir sebagai peserta upacara.

Yang cukup mengherankan lagi, saat sidang berlangsung, seorang pengunjung a.n. Yudas Kosay sebagai simpatisan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Biak, tertangkap tangan membawa sebuah Lattop, dan selebaran KNPB di ruang persidangan.

Pengunjung di persidangan, yang bernama Rumbiak, menegaskan bahwa dari hasil mengikuti persidangan ini, membuka mata kita bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang sengaja membuat kekacauan di Papua. Salah satunya adalah KNPB, kehadirannya di ruang persidangan tidak jauh dari ingin mempolitisir jalannya hasil sidang. Atau secara awam, tertangkapnya Yudas Kosay di persidangan memperlihatkan dukungannya terhadap pengibaran-pengibaran Bendera Bintang Kejora dan kekecauan lainnya di Papua.

Sementara beberapa pengunjung lainnya, diantaranya Romsumbre memberikan pendapat yang sama, bahwa kekecauan-kekacauan di Papua, sebenarnya hanya ulah segelintir orang yang tidak punya pekerjaan seperti anak-anak KNPB. Seluruh masyarakat Papua mendambakan hidup tenang, tapi ada pihak-pihak yang memaksa untuk ikut mereka, seperti kasus pengibaran ini, untuk melakukan kekacauan-kekacauan di Papua.

Pengunjung kasus Pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut, mengingatkan masyarakat Papua agar lebih berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh untuk ikut-ikutan dengan orang-orang tersebut, karena masih banyak orang-orang kita sendiri yang mencari nafkah dari “perjual-belian kekacauan” di Papua.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s