Aktivis Papua Barat Lempar Batu Sembunyi Tangan

gmbr1

Di Kampung Yongsu tidak ada kelompok dengan nama Raja Cyclop, nama tersebut digunakan oleh TNI/Polri untuk mengacaukan perjuangan bangsa Papua Barat yang telah mengedepankan penyelesaian dengan jalan damai, terangnya Jubir Dewan Militer West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) Jonah Wenda di Kota Jayapura (7/12).

Wenda menambahkan “senjata rakitan yang katanya ditemukan dalam operasi di Kampung Yongsu milik TPN-OPM adalah tidak benar. Pada 11 November 2011 sudah ada kesepakatan antara TPN-PB dan Utusan Khusus President RI, Dr. Farid Husein bahwa masalah politik Papua Barat harus diselesaikan dengan cara-cara damai. Dan sudah dua tahun belum ada jawaban dari Pemerintah RI, justru TNI-Polri melakukan banyak pendekatan kekerasan yang mengakibatkan kematian masyarakat sipil baik Papua maupun non Papua”, tegasnya.

Atas pernyataan Wenda, Dosen Uncen Solossa, yang enggan disebut namanya, mengatakan “Itulah perilaku aktivis kita yang mengklaim diri sebagai pejuang pembebasan bangsa Papua Barat. Namun ketika terjadi masalah berlomba-lomba untuk cuci tangan, tapi selalu mengaku diri sebagai pejuang. Masih sebagai pimpinan organisasi kelompok mimpi, namun tidak gentlemen. Bagaimana nantinya bisa menjadi pimpinan yang benar kalau bisanya hanya lempar masalah,” terangnya.

Solossa juga mengatakan, pernyataan seorang politisi yang mengklaim diri petiinggi WPNCL, dari namanya sebuah organisasi dengan nama kebarat-baratan, secara momentum tidak pantas membicarakan mendiang Eduard Okoserai karena keluarga masih dalam duka. Apalagi dengan tudingan macam-macam, sebagai TPN/OPM atau tidak karena belum saatnya karena keluarga masih duka.

Sebelumnya, Sekretaris NFRPB, Markus Haluk, juga melakukan hal yang tidak manusiawi dengan menyatakan, penembakan terhadap masyarakat sipil bersenjata dan perakit senjata, Edward Okoserai adalah teroris dan bukan OPM, urainya dalam konferensi pers di Kota Jayapura (5/12), urainya.

Dosen tersebut menegaskan, inilah karakter-karakter politisi elit Papua, yang tidak mencerminkan hati nurani dan persaan. Bagaimanapun sikap itu tidak terlepas dari setiap gerak-gerik dan sikap politiknya. “Tidak peduli keadaan orang lain demi kepentingan nya”, imbuhnya.

Jadi patut kita cuiga, gerakan politik elit-elit ini yang selalu mengatas-namakan pejuang Papua Barat. “Jangan sampai mengatas-namakan masyarakat Papua, namun dibelakangnya hanya kepentingan pribadi. Sikap dan tingkah laku yang tidak mengindahkan hati nurani alias barbar, tidak segan-segan menjual rakyat demi kepentingan pribadi,” tegasnya dengan nada kesal.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s