Pemuda Papua Sibuk Perayaan

gmbr2

Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Papua (GEMPAR), menyampaikan seruan kepada masyarakat Papua untuk menggelar perayaan HAM internasional tanggal 10 Desember 2013 di Jayapura. Demikianlan seruan GEMPAR, yang diketuai Yason Ngelia dan sekaligus Ketua BEM Fakultas Fisip Uncen di Jayapura (8/12)

Kebiasaan Masyarakat dan Mahasiswa Papua Senang di Jalanan
Dengan adanya seruan itu, salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Uncen Semester V, Karoba mengatakan bahwa mahasiswa Papua kurang kerjaan dan sibuk perayaan-perayaan yang kurang bermanfaat. Seruan GEMPAR untuk melakukan demo ke Komnas HAM dan Kantor DPRP, berarti mahasiswa akan meliburkan diri dan menghentikan aktivitas.

Dia menambahkan, kalau kita berpikiran intelektual, Negara-negara maju seperti Negara Jepang dan Eropa, terkenal motto kehidupan mereka “Time is money atau waktu itu adalah uang”. Kegiatan-kegiatan seperti ini tidak perlu dan jauh lebih baik masuk kampus dan belajar lebih giat agar cepat lulus dan berkarya di tengah masyarakat untuk membangun Papua. Aksi nyata para mahasiswa lebih dibutuhkan daripada berteori apalagi hanya berteriak-teriak di jalanan seperti orang yang tidak punya kerjaan.

Karoba juga mengatakan, seperti himbauan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Ir. H. M Hatta Rajasa saat memberi kuliah umum di di Auditorium Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura (23/11). “Mahasiswa diharapkan mejadi masa depan Papua yang dapat mempercepat pembangunan dan melakukan percepatan ekonomi dalam membangun Papua di masa yang akan datang”, tegasnya.

Mahasiswa Hukum tersebut juga menyampaikan, Mengko Perekonomian telah mengingatkan kita agar bisa mengolah SDA yang ada sendiri demi kesejahteraan rakyat Papua. Kita harus mewujudkan daya saing konektivitas ekonomi dan logistik sehingga dapat menurunkan biaya mahal menjadi murah. Sekaligus dalam menghadapi peluang dan tantangan dalam menyambut globalisasi, dimana tahun 2015 kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi Asean dan integrasi secara global, sehingga mulai tahun 2014 kita tidak boleh lagi mengekspor barang mentah ke luar negeri dan harus mengekspor barang jadi supaya kita tidak menjadi negara tertinggal.

Karoba menjelaskan, saya melihat rekan-rekan mahasiswa belum bisa menerima hal itu. Seakan-akan pasrah dan kurang peduli untuk mengahadapi persaingan yang semakin ketat ke depan. Kebiasaan ngumpul-ngumpul di jalanan, masih menggejala dalam kebiasaan teman-teman.

Terang Karoba, kalau kebiasaan ini tidak dapat dirubah, maka konsekuensinya Papua akan tetap tertinggal, terlarut dalam hayalan-hayalan yang tidak masuk akal. Bila tidak ingin demikian, kita harus merubah pola lama kita untuk mau bekerja keras menuntut ilmu setinggi-tingginya dengan penguasaan skill masing-masing sesuai displin ilmu yang ditekuninya.
“Memikirkan masa depan untuk mempersiapkan diri menghadapi kontestant yang semakin ketat. Bukan berleha-leha dan mengurusi hal-hal yang tidak jelas”, tegasnya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s