Papua dalam Kedamaian

papuatanahdamai

Papua, surga kecil yang jatuh ke bumi, hitam kulitku, keriting rambutku, aku seorang Papua kata Edo Kondologit dalam lagunya dalam sebuah acara expo di daerah raja ampat yang di siarkan sebuah televisi swasta baru-baru ini.

Di tengah-tengah pemberitaan tentang konflik berkepanjangan yang terjadi di tanah Papua. Liputan singkat dari salah satu televisi swasta tersebut bagaikan oase di tengah padang pasir. Setidaknya masyarakat Indonesia tahu bahwa di tanah Papua sendiri masih terus membara semangat dan bibit-bibit optimisme masyarakatnya untuk mampu membangun negeri Papua yang makmur, sejahtera, dan madani. Wajah-wajah kebahagiaan masyarakat Papua seolah-olah menyampaikan satu pesan bahwa mereka ingin Papua dalam kedamaian, jauh dari konflik yang saat ini terus menjeratnya. Mereka ingin memperlihatkan ke dunia Internasional bahwa inilah Papua dengan segala surga keindahaannya, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan buminya. Setiap putra Papua pastilah ingin mencicipi nikmatnya pembangunan itu bahkan kalau perlu ikut andil dan pastilah ingin mengolah kekayaan bumi mereka secara mandiri, jauh dari otak-atik kapitalisme dan rayuan investor asing. Mungkin masih banyak lagi jeritan hati putra Papua yang sampai saat ini masih tertahan di mulut mereka.

Betapa sedih dan pilunya ketika melihat konflik di tanah Papua yang tak kunjung reda. Tak terhitung mungkin berapa banyak nyawa yang telah terengut, rumah-rumah penduduk yang telah hancur, ibu dan anak yang harus tidur dalam ketakutan. Konflik yang terjadi di daerah Papua memang tak bisa disamakan dengan konflik yang terjadi di daerah lainnya. Ini karena masyarakat Papua sendiri memiliki kekeluargaan antar suku yang amat kuat, fanatisme kelompok, dan masyarakat Papua juga paling sportif. Tapi hal ini bukanlah kambing hitam atau alasan lambatnya penanganan konflik di Papua, namun disinilah pemerintah mesti menentukan aksi yang tepat. Pendekatan keamanan yang saat ini dilakukan memang bukan merupakan solusi terbaik, harusnya pendekatan kesejahteraan dan dialog yang lebih dikedepankan.

Belum lagi pemberitaan tentang PT. Freeport Indonesia, betapa banyak pemberitaan tentang aksi penembakan oleh aparat keamanan PT. Freeport terhadap masyarakat lokal. Habis manis sepah dibuang, mungkin inilah ungkapan yang cocok untuk mengambarkan keadaan penambangan emas oleh PT. Freeport saat ini. Setelah emas di keruk, tinggallah Papua dengan alam yang rusak dan bagi hasil yang tak sebanding untuk masyarakat Papua dan Indonesia. Dari perjanjian sekitar 3,75 % royalti untuk bangsa Indonesia, hanya 1 % yang disetorkan oleh PT. Freeport Indonesia (baca:PT. Freeport Indonesia, Google.com). Seolah-olah kita melupakan jati diri bangsa kita dengan prinsip hubungan luar negeri bebas aktif. Kita semakin bertekuk lutut di hadapan para pengusas ekonomi dunia.

Saat ini sebagian masyarakat Papua belum merasa menjadi bagian di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Integrasi yang ambigu. Mereka belum sepenuhnya merasakan pembangunan di tanah mereka. Semakin tenggelam oleh cepatnya pembangunan di daerah-daerah perkotaan di tanah jawa. Tidak ingatkah kita betapa dengan susah payahnya Soekarno dahulu mempertahankan tanah Papua agar tetap menjadi bagian dari NKRI. Padahal kala itu, Papua tak lebih dari rawa-rawa, dan penyakit malaria.

Apa yang terjadi di tanah Papua hanyalah satu kasus betapa setelah 67 tahun kita merdeka, pembangunan itu masih belum terdistribusi merata di setiap daerah di Indonesia. Papua hanyalah satu, masih ada puluhan daerah lagi yang butuh perhatian lebih, punya jeritan yang sama denga jeritan putra Papua. Masih ada segudang masalah di daerah lagi seperti daerah perbatasan yang masih butuh pembangunan secepat mungkin. Sangat sensitif juga jika hal ini dikesampingkan dalam buku tugas pemerintah.

Menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Menjaga agar NKRI tetap selalu berbentuk kesatuan, bukan ingin melepaskan dirinya satu persatu. Maka tugas kita bersama untuk terus menjaga keutuhan tersebut. Tidak hanya bagi pemerintah, tapi juga kepada seluruh putra-putra daerah. Kita tentu berharap pembangunan di negeri kita semakin merata. Tak ada lagi yang merasa terdiskriminasi. Kemajuan ekonomi mesti terdistribusi merata ke seluruh daerah. Papua akan selalu dan tetap sejahtera di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s