Papua: Hati-hati Provokasi Gerakan Separatis

PAPUA HATI-HATI PROVOKASI GERAKAN SEPARATISPermasalahan separatis di Papua sampai saat ini masih terjadi. Perjuangan gerakan separatis Papua dilakukan melalui berbagai cara, yaitu politik dalam negeri, politik luar negeri, gerakan militer, ideologi sampai usaha provokasi kepada masyarakat Papua untuk membenci Apkam (TNI/Polri). Masyarakat Papua harus cerdas dalam menyikapi segala permasalahan yang terjadi di Papua, agar tidak mudah di provokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, dalam hal ini provokasi-provokasi yang muncul dari gerakan-gerakan separatis yang ada di Papua.

Beberapa dugaan usaha gerakan separatis Papua untuk memprovokasi masyarakat antara lain: Pertama, kasus penembakan di Paniai yang memprovokasi masyarakat bahwa Apkam yang melakukan.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen, Fuad Basya di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (11/12/2014), menduga adanya keterlibatan kelompok separatis, sehingga terjadi bentrokan antara warga dan aparat di Lapangan Karel Gobai, Kampung Madi, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai Enarotali, pada Senin (8/12/2014). Namun, hal tersebut masih sebatas dugaan-dugaan yang masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk diketahui kebenarannya. Menurut Fuad, sehari sebelum terjadinya bentrokan,TKP merupakan lokasi yang rawan. Kelompok orang yang tak dikenal tersebut mungkin saja merupakan orang dari kelompok separatis yang ingin melakukan provokasi.

Proses penyelidikan yang lama dikarenakan polisi kesulitan dalam menentukan tersangka, karena keluarga korban tidak mau memberikan izin kepada penyidik untuk melakukan otopsi terhadap korban penembakan. Hal tersebut juga menimbulkan pertanyaan kenapa keluarga korban tidak mengizinkan jenazah korban untuk diselidiki dari proyektil yang tertanam di tubuh korban.

Kapolda Papua, Yotje, mengatakan bahwa “Kita bisa menyimpulkan dan mendapatkan bukti yang nyata apabila keluarga korban merelakan untuk dilakukan otopsi terhadap korban penembakan itu,” di Aula rastra Samara Polda Papua, Kamis (12/2). Ia juga mengungkapkan, permintaan penggalian terhadap mayat korban untuk dilakukan otopsi guna mengetahui peluru seperti yang bersarang dalam tubuh korban. Sebab, peluruh dari TNI sangat berbeda dengan peluru yang dimiliki oleh Polri.

“Ini yang menjadi kesulitan bagi kami penyidik karena ketika melakukan otopsi, pihak keluarga korban tidak ingin dilakukannya, sehingga kami sangat sulit untuk mengungkap dari mana asal peluru tersebut,” ucap Kapolda. Sedangkan, DPR Papua saat ini masih menunggu hasil investigasi kasus penembakan di Enarotali – Kabupaten Paniai yang menewaskan empat warga sipil pada tanggal 8 Desember lalu. Hal itu dikatakan anggota Komisi A DPR Papua bidang politik dan hukum, Along kepada SH Senin (22/12) sore di Kantor Gubernur Dok II Jayapura.

Kasus kedua, mengenai keterlibatan TNI/Polri dalam penjualan amunisi ke gerakan separatis, Juru bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Bazoka Logo, (8/2/2015) menjelaskan kasus penjualan munisi oleh Oknum TNI di Papua kepada Kelompok GPK Papua Bersenjata pimpinan Purom Wenda benar adanya. Kami melihat yang selama ini menjadi pengacau di tanah Papua adalah justru TNI/Polri.

Sebaliknya, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (6/2/2015), mengatakan kelompok bersenjata Papua atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) menggunakan senjata lama atau senjata tua. “Kalau saya tak percaya, TNI (khususnya non organik) menjual peluru ke gerombolan OPM. Senjata yang digunakan OPM adalah senjata tua jenis LE, SP 1 dan Steyer,”. Hasanuddin menjelaskan, yang mungkin harus mendapat perhatian justru satuan TNI organik terutama putra daerah, karena hubungan kekerabatan mereka mungkin saja saling menukar peluru dengan barang-barang lain.

Berdasarkan kasus diatas, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyikapi permasalahan di Papua, karena disinyalir elemen separatis memanfaatkan momen-momen untuk terus melakukan provokasi kepada masyarakat dan mempolitisir kasus untuk semakin menyudutkan Apkam TNI/Polri di Papua, serta untuk merongrong kewibawaan Pemerintah di mata masyarakat Papua. Lebih baik menunggu hasil penyelidikan dari Aparat Keamanan sebelum menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s