Dampak Aktivitas Pertambangan di Degeuwo : SebuahTinjauan Kritis

TambangKabupaten Paniai merupakan merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Papua. Secara geografis, Kabupaten Paniai berada di jalur Pegunungan Tengah Papua yang terletak pada ketinggian ± 1.700 meter di atas permukaan laut. Kabupaten Paniai memiliki berbagai potensi kekayaan sumber daya alam yang salah satunya adalah sektor pertambangan emas.

Akan tetapi, walaupun Kabupaten Paniai memiliki potensi pertambangan emas yang cukup besar, hingga hari ini aktivitas pertambangan di wilayah tersebut belum dikelola secara baik. Salah satu contoh adalah aktivitas penambangan yang ada di wilayah tepian Degeuwo Distrik Bogobaida. Sebagian besar kegiatan penambangan di Degeuwo yang telah dimulai pada tahun 2003/2004 sama sekali belum memiliki dasar hukum atau dengan kata lain penambangan ilegal.

Aktivitas penambangan emas ilegal di Degeuwo saat itu telah mengubah kehidupan masyarakat setempat serta para pendatang secara drastis. Perputaran roda perekonomian yang terjadi di wilayah tersebut secara otomatis cenderung meningkat. Lonjakan ekonomi yang terjadi tentu saja berdampak pada berbagai bidang dalam dinamika kehidupan masyarakat Kabupaten Buru. Salah satunya adalah kenaikan harga yang cukup drastis terhadap berbagai kebutuhan pokok masyarakat.

Dampak lain yang lebih luas, kegiatan penambangan yang dilakukan secara tradisional tentu mengakibatkan terjadinya kerusakan di bidang lingkungan. Penggunaan zat berbahaya seperti merkuri (Hg) yang ikut mengalir bersama dengan limbah pendulangan emas akan mencemari air tanah, daerah serapan air, dan daerah aliran sungai yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari. Selain itu, dampak lingkungan penambangan secara tradisional adalah perubahan bentang alam dan kerusakan ekosistem hayati yang ada di Degeuwo dikarenakan tidak akan ada reklamasi bagi lahan pasca penambangan dilakukan.

Pada bidang stabilitas keamanan, kegiatan penambangan di Kabupaten Buru merupakan salah satu pemicu konflik yang terjadi beberapa waktu lalu. Pada tahun 2014 lalu terjadi aksi penembakan di lokasi pendulangan emas Degeuwo. Selain itu, peredaran minuman keras dan kegiatan prostitusi di wilayah penambangan tersebut semakin hari menjadi semakin marak. Tercatat beberapa warga setempat mengidap penyakit HIV/AIDS.

Aktivitas pertambangan yang berlangsung di Degeuwo pada dasarnya masuk dalam kategori ilegal. Dikatakan ilegal karena aktivitas penambangan tersebut sama sekali tidak memiliki Izin Pertambangan Rakyat (IPR) sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara serta aturan pelaksanaannya yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Selain itu, aktivitas penambangan di Kabupaten Buru sama sekali tidak berorientasi kepada kesehatan dan keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan hidup (pengelolaan limbah), dan pasca tambang (melakukan penataan kembali terhadap lahan eks pertambangan serta melaksanakan reklamasi).

Mengingat dampak negatif yang sangat besar akibat aktivitas pertambangan di Degeuwo, Pemerintah Daerah diharapkan dapat bertindak secara tegas. Pemerintah Daerah juga diharapkan dapat menata kegiatan penambangan emas di Degeuwo secara tepat berdasarkan regulasi yang berlaku sehingga potensi sumber daya alam tersebut dapat dinikmati masyakat luas.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s