Papua : Waspadai Korelasi antara Malaria dengan HIV/AIDS

5_HIVPenyakit Malaria dan HIV/AIDS merupakan contoh permasalahan penyakit yang mematikan di negara-negara dengan iklim tropis seperti Indonesia. Dua penyakit tersebut merupakan permasalahan kesehatan pada tingkat global yang sangat serius. Menurut Badan PBB untuk Kesehatan Dunia Khusus AIDS, dua penyakit tersebut telah merenggut hingga lebih dari empat juta nyawa di dunia setiap tahunnya. Kondisi demografi, geografis dan iklim suatu wilayah membuat pencegahan dan pengobatan atas dua penyakit tersebut menjadi kurang maksimal.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli yang dilakukan di Afrika beberapa waktu lalu, mengungkap fakta yang sangat mengejutkan bagi dunia kesehatan terkait penyakit Malaria dan HIV/AIDS. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat kemungkinan keterkaitan antara penyakit Malaria dan penyebaran virus penyebab AIDS di kawasan Afrika. Interaksi antara dua penyakit ini dapat mendorong percepatan penyebaran virus AIDS.

Sebelum penelitian ini dilakukan, sangat sulit sekali untuk mengaitkan kedua penyakit tersebut. Penyakit Malaria pada dasarnya disebabkan oleh parasite yang berwujud mikroba bersel tunggal dari genus plasmodium, khususnya falciparum. Parasit ini hidup di dalam tubuh nyamuk, terutama dari spesies anopheles gambiae dan berpindah ke manusia lewat gigitan. Sementara HIV menular lewat pertukaran cairan, antara lain hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, serta melaui transfusi darah.

Hasil dari penelitian tersebut juga menyatakan bahwa ketika seseorang terinfeksi HIV, daya tahan tubuh orang tersebut akan menurun yang menyebabkan lebih mudah untuk terkena Malaria. Saat orang dengan HIV/AIDS (Odha) terkena malaria, HIV dalam darah meningkat dan membuat mereka lebih mudah menularkan virus itu pada pasangan seksual mereka. Faktor biologis akibat malaria membantu penyebaran HIV dengan meningkatnya kemungkinan penularan HIV setiap berhubungan seks. Selain itu, terungkap pula bahwa malaria diyakini bisa menambah jumlah HIV dalam darah sepuluh kali lebih banyak dari Odha yang tidak kena malaria.

Hasil penelitian tersebut juga memberikan perkiraan bahwa dari puluhan ribu kasus penularan HIV atau lima persen dari total kasus yang ada dan jutaan kasus malaria, 10 persen dari total jumlah kasus tersebut memiliki kemungkinan adanya komplikasi antara HIV dan malaria. Hal ini menunjukkan bahwa faktor penyakit malaria mampu memengaruhi percepatan penyebaran HIV. Dengan kata lain, terdapat hubungan atau korelasi yang cukup erat antara penyakit malaria dengan HIV.

Hasil penelitian tersebut yang menyatakan adanya keterkaitan antara malaria dengan HIV/AIDS dikhawatirkan dapat mempercepat terjadinya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Tanah Air. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan dikenalnya Indonesia selama ini sebagai negara tropis yang memiliki sejumlah daerah endemik malaria seperti di Papua dengan perkembangan kasus HIV/AIDS yang terus meningkat.

Pemerintah ditantang untuk lebih responsif dalam menyikapi hasil temuan tersebut mengingat Papua merupakan wilayah dengan jumlah penderita malaria tertinggi dan jumlah pengidap HIV/AIDS terbesar ketiga setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Selain pengobatan yang rutin, pemerintah bersama-sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) perlu berkolaborasi dalam memberikan edukasi seperti pentingnya kebiasaan hidup sehat dan pentingnya penggunaan kondom bagi masyarakat Papua guna menekan jumlah penderita malaria dan HIV/AIDS.

Dalam rangka mengurangi risiko terjadi infeksi malaria dan HIV khususnya di Papua, perlu ada upaya pencegahan dan program pengobatan secara bersamaan. Hal ini membutuhkan kerja sama dan komitmen politik untuk mengurangi beban yang ditimbulkan karena HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Program pengendalian HIV/AIDS dan malaria sebaiknya dikolaborasikan untuk memastikan pelayanan kesehatan yang terintegrasi. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menyediakan alat diagnostik untuk kedua penyakit tersebut, obat antiretroviral (ARV) dan pengobatan antimalarial yang lebih efektif.

Selain itu, salah satu alternatif strategi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS adalah dengan melakukan intervensi biomedis yaitu melalui pengobatan sebagai pencegahan atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal sebagai Pre-Exposure Erophylaxis (PrEP). Para ahli menjelaskan bahwa PrEP merupakan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS untuk orang-orang yang masih HIV-negatif atau yang belum terinfeksi virus HIV namun memiliki perilaku berisiko. Misalnya pada kelompok homoseksual, laki-laki biseksual, maupun para pekerja seks komersial.

PrEP memang dapat menjadi alternatif strategi untuk mencegah penularan HIV. Caranya adalah dengan mengonsumsi secara rutin obat antiretroviral (ARV) sebelum tertular. Di dunia internasional, PrEP sudah digunakan sejak tahun 2010, terutama pada kelompok LSL atau laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Di Indonesia, PrEP juga telah dimasukkan dalam Strategi Rencana Aksi Nasional 2015-2019 Penanggulangan HIV dan AIDS.

Semoga saja berdasarkan hasil penelitian seperti dijelaskan di atas serta dengan pengobatan yang intensif oleh pemerintah dan dengan adanya alternatif pencegahan penularan penyakit HIV/AIDS tersebut dapat menekan dan menurunkan angka penderita penyakit malaria dan penularan virus HIV/AIDS baik di Papua maupun di wilayah lainnya di seluruh Indonesia.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s