Perseteruan 2 Organisasi Papua (AMP dan AMPTPI) Kepentingan Politik Yang Berbeda

PERSETERUAN 2 ORGANISASI PAPUAAliansi Mahasiswa Papua [AMP] dan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) merupakan 2 organisasi pergerakan mahasiswa Papua yang selama ini eksis menyuarakan aspirasi rakyat Papua di Indonesia, mereka selalu mengeluarkan pernyataan terkait kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan Papua. Kedua organisasi tersebut mempunyai latar belakang pendiri organisasi yang berbeda, sehingga masing-masing organisasi mahasiswa tersebut mempunyai perbedaan pandangan, bahkan sampai saat ini kedua organisasi tersebut terkesan tidak akur, karena segala pernyataan yang dikeluarkan selalu bertentangan.

Sebagai contoh mengenai konggres yang diadakan oleh AMPTPI di Bilabong Parung, Bogor, Jawa Barat, tanggal 18 Mei kemarin, banyak pernyataan dan komentar pedas yang dilontarkan oleh AMP. Seperti pernyataan yang disampaikan oleh Jefry Wenda selaku Ketua Pusat AMP didampingi Roy Karoba, selaku Biro Politik AMP, di Asrama Mahasiswa Papua “Kamasan I” Yogyakarta, AMP mempertanyakan sikap AMPTPI yang terkesan tertutup dan tidak terbuka tentang pelaksanaan kongres yang dilakukan. “Jika ingin melakukan kongres di wilayah Jawa dan Bali, AMPTPI seharusnya datang dan mengajak seluruh elemen mahasiswa Papua yang ada di Jawa dan Bali untuk berbicara secara terbuka terkait latar belakang diadakannya kongres, dan tujuan kongres itu sendiri. AMPTPI terkesan tidak menghargai kami yang ada di sini, seakan-akan mahasiswa yang tinggal di jawa dan bali ini tidak memiliki organisasi, sehingga mereka datang dengan seenaknya saja, lalu mengajak mahasiswa yang ada untuk mengikuti kongres, tanpa ada penjelasan di awal. Untuk itu, kami secara tegas menolak pelaksanaan kongres AMPTPI yang digelar di Bogor.”, tegas Jefry.

Selanjutnya, Jefry menambahkan, “kami mahasiswa Papua yang berada di Jawa dan Bali memiliki organisasi, sehingga jika ingin mengadakan kegiatan seperti ini, apa salahnya jika menyampaikan informasi secara terbuka kepada kami semua, agar kami semua paham akan maksud dan tujuan diadakannya kongres itu. Jangan datang seperti pencuri yang masuk tanpa permisi seperti ini. Kami menghargai dan menghormati kawan-kawan jika ingin menggelar konggres di sini, namun jika caranya seperti pencuri, maka justru akan menimbulkan kecurigaan lain, apa lagi kongres ini dilaksanakan dalam waktu yang sangat mepet dan terkesan sangat tergesah-gesah.” lanjut Jefry menegaskan.

Hal senada juga dilontarkan Roy, ” ada banyak organisasi dan paguyuban yang menaungi mahasiswa Papua pada umumnya yang ada di Jawa dan Bali, namun mengapa AMPTPI sebagai organisasi, tidak menyurati pimpinan-pimpinan organisasi yang ada, dan justru membangun komunikasi secara tertutup, seakan-akan ada yang ditutup-tutupi. Jangan main sembunyi-sembunyi seperti anak kecil, ini bukan saatnya untuk main kucing-kucingan, jika bermaksud baik, kenapa takut ?saya kira AMPTPI tahu bahwa tanggal 21 mei mendatang akan ada apa, sehingga saya tegaskan kepada panitia pelaksana kongres AMPTPI untuk segera pulangkan massa Mahasiswa yang mengikuti kongres ke kota mereka masing-masing, sebelum tanggal 21 mei 2015. Jangan datang dan mengacaukan agenda yang sudah kami persiapkan, jika mereka memang bagian dari rakyat Papua dan juga mengikuti perkembangan politik Papua, saya kira merekapun tahu agenda bangsa Papua di tanggal 21 mei mendatang”. Tegas Roy

“Dan Roy juga menegaskan kepada AMPTPI bahwa, AMP tidak akan pernah mengakui keberadaan AMPTPI, “. Selain itu, AMP juga menganggap kongres AMPTPI dinilai Kacaukan Perjuangan Rakyat Papua Gabung ke MSG. Hal itu dibuktikan dengan pernyataan Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bandung (AMP KK) Pyan Pagawak bahwa kongres III AMPTPI yang digelar di Bogor, Jawa Barat adalah salah satu upaya pengalihan konsentrasi dari mahasiswa dan rakyat Papua terhadap perjuangan para pimpinan organisasi politik dibawah payung United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk menjadi anggota tetap di Melanesian Spearhead Group (MSG).

Bahkan salah satu anggota AMP memberikan pernyataan yang terkesan persaingan diantara AMP dan AMPTPI, karena perbedaan kepentingan politik masing-masing organisasi, yaitu Minus Tinal yang mempertanyakan keberadaan organisasi AMPTPI, karena menurutnya tindakan nyata dalam menyikapi segala persoalan di Papua belum pernah dilakukan.  “Saya baru tahu, dia bangkit dari mana? Kalau memang sudah lama ada, kenapa tidak biasa adakan aksi nyata? Katanya pernah melakukan Kongres AMPTPI I dan II, mana hasilnya, atau selama ini diam di tengah berbagai persoalan?” tanya Minus. Kalau AMPTPI diklaim organisasi sosial, kata dia, seharusnya ada tindakan konkrit di lapangan. “Selama ini kemana? Tidak pernah ada aksi sosial atau jarang respon masalah sosial yang terjadi di tengah rakyat Papua, atau hanya buat diskusi, seminar yang dibuat mengatasnamakan organisasi itu,” tegas Tinal. Ia menilai, kongres III yang tengah digelar AMPTPI hanyalah berfoya-foya serta menganggu konsentrasi mahasiswa Papua.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s