KNPB Tidak Berhasil Boikot HUT RI

Agus_3Gerakan Papua Merdeka melalui faksi Politiknya selalu berusaha untuk menunjukkan eksistensi gerakannya, kegiatan dilaksanakan baik secara terorganisir melalui organisasi seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB), maupun dilaksanakan secara perorangan melalui media sosial. Begitu banyak media yang menyuarakan tentang kemerdekaan Papua, dengan memberikan informasi yang bersifat memojokkan pemerintah Indonesia, serta memberikan fakta fakta tentang harapan akan kemerdekaan Papua yang sebenarnya tidak ada (mitos semata) atau hanya merupakan janji kosong. Pada bulan Agustus merupakan bulan yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana pada bulan itu seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 2015, hal ini juga dimanfaatkan oleh kelompok mereka untuk menunjukkan eksistensi gerakannya dengan upaya memboikot kegiatan yang berkaitan dengan perayaan kemerdekaan 17 Agustus 2015.

Perbedaan Ras seringkali dijadikan dasar bagi mereka untuk membedakan dengan wilayah Indonesia yang lain, bahwa mereka memiliki ras Melanesia yang merupakan ras yang hidup di daerah Pasific dan sekitarnya sedangkan Indonesia memiliki Ras Melayu. Kenyataannya ada bagian Indonesia lainnya yang mempunyai Ras Melanesia juga, seperti yang tinggal di kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Seruan untuk tidak melaksanakan kegiatan atau memboikot perayaan 17 Agustus 2015 salah satu dasar yang mereka jadikan acuan adalah adanya perbedaan ras, dengan menutupi adanya fakta bahwa ada bagian lain wilayah Indonesia yang memili ras yang sama dimana saat ini terdapat 5 propinsi yang mayoritas penduduknya adalah ras Melanesia yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Kenyataan inilah yang menjadi dasar diterimanya Indonesia menjadi anggota asosiasi Melanesian Spearhead Group (MSG) pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-20 di Honiara pada 24-26 Juni 2015, Kepulauan Solomon, sedangkan gerakan papua merdeka yang tergabung dalam organisasi ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) hanya diterima sebagai peninjau.

Keanggotaan Indonesia di dalam MSG sangat menguntungkan Indonesia, karena dengan menjadi anggota, Indonesia merupakan bagian dari pihak yang bisa memberikan keputusan, meskipun bukan anggota pendiri. Adanya statuta MSG di mana masing-masing negara menghormati kedaulatan negara dan tidak mencampuri urusan domestik negara lain. Jadi dengan masuknya Indonesia dalam MSG, negara-negara di Pasifik tidak akan mempermasalahkan kedaulatan Indonesia atas wilayah Papua. Keanggotaan Indonesia dalam MSG secara tidak langsung menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan Pasific mengakui keberadan Papua di dalam wilayah kedaulatan Indonesia, bila mereka meragukan maka tidak akan menerima Indonesia sebagai anggota.

Himbauan dari kelompok Papua merdeka melalui faksi politiknya yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan organisasi ULMWP (United Liberation Movement for West Papua), kenyataannya tidak berdampak bagi masyarakat Papua. Masyarakat Papua baik masyarakat pendatang maupun masya-rakat asli Papua, dengan gembira dan sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun oleh jajaran TNI AD di wilayah propinsi Papua dan Papua Barat. Lebih menarik lagi ternyata ada juga kebanggaan dari masyarakat Papua, salah seorang siswanya, Briand F. Felle, siswa kelas 2 SMAN 1 Sentani, menjadi pengerek Bendera Merah Putih saat upacara pengibaran bendera untuk memperingati 70 tahun Kemerdekaan di Istana Negara, Jakarta.

Kemeriahan perayaan memperingati kemerdekaan Indonesia ke 70 di propinsi Papua dan Papua barat, tidak lepas peran dari para tentara kita yang bertugas di wilayah tersebut, baik satuan organik maupun satuan yang menjaga wilayah perbatasan Indonesia – PNG. Keberadaan mereka di tengah masyarakat Papua, memberikan rasa aman, bahkan satuan-satuan di wilayah tersebut juga memelopori untuk melaksanakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Indonesia dengan mengadakan lomba-lomba yang diikuti secara antusias oleh masyarakat. Kegembiraan masyarakat serta kebanggaan adanya wakil mereka menjadi pengerek bendera, menunjukkan bahwa mereka menyadari sebagai warga negara Indonesia, walaupun ditengah rasa was-was karena adanya boikot dari kelompok kecil yang menamakan dirinya mewakili masyarakat Papua, ternyata tidak berhasil mempengarui masyarakat Papua yang bangga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari NKRI.

Pemuda asal Wamena Hamilton Asso mengatakan bahwa sudah saatnya masyarakat dan pemuda Papua membangun bangsa Indonesia. “sekarang masyarakat sudah dewasa.. tidak terpengaruh hasutan orang-orang yang tidak bertanggungjawab.. mari bangun Papua demi kemajuan bangsa” ungkapnya sambil mengepalkan tangan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s