Melanesian Culture Festival : Momentum Perayaan Keberagaman

Andi_5Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 2015 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan pembukaan pelaksanaan Melanesian Culture Festival (MCF) atau juga dikenal sebagai Festival Budaya Melanesia yang diselenggarakan di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). MCF tersebut juga diikuti oleh beberapa negara tetangga di wilayah pasifik, yaitu Timor Leste, Vanuatu, Kaledonia Baru, Kepulauan Solomon, Fiji, dan Papua Nugini (PNG). Indonesia sendiri menyertakan perwakilannya yang berasal dari beberapa provinsi dengan estetika dan corak kebudayaan Melanesia, yaitu Provinsi NTT, Provinsi Maluku, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Papua, dan Provinsi Papua Barat.

MCF pada dasarnya merupakan inisiasi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setelah diterimanya Indonesia sebagai Associate Member dalam organisasi Melanesian Spearhead Group (MSG). Pergelaran MCF yang berlangsung hingga 30 Oktober 2015 tersebut akan diikuti lebih dari 360 peserta dan akan menampilkan berbagai kegiatan, diantaranya adalah pertunjukan kesenian, pameran budaya, dan festival film anak bangsa yang merepresentasikan kebudayaan Melanesia (salah satunya film dengan judul 39 derajat yang berlatarkan wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste).

Agenda kegiatan MCF diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang memiliki estetika budaya Melanesia untuk saling bertukar pengetahuan, tradisi, dan budaya dengan harapan agar dapat meningkatkan pemahaman dan solidaritas di kawasan Melanesia. Tujuan lain dalam penyelenggaraan MCF adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Melanesia kepada dunia global. Ajang festival tersebut juga diharapkan dapat membangun dan mempererat hubungan diplomatis antar negara-negara di kawasan Pasifik dalam berbagai sektor.

Negara-negara di kawasan Pasifik merupakan satu keluarga yang memiliki budaya yang sama sebagai ras Melanesia. Walaupun terdapat beberapa perbedaan, namun pada dasarnya memiliki akar yang sama. MCF merupakan momentum yang sangat tepat untuk mempererat tali persaudaraan antara negara-negara Melanesia. Kerjasama yang dimaksud adalah kerjasama yang tidak hanya terbatas pada budaya, melainkan juga mencakup pada bidang lainnya, seperti kemaritiman, ekonomi, dan politik. Kerjasama yang terbangun tersebut diharapkan dapat menciptakan iklim perdamaian yang akhirnya menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat negara-negara ras Melanesia

Dalam momentum MCF tersebut juga, Provinsi NTT mengajukan beberapa budaya NTT untuk dipatenkan menjadi budaya nasional agar bisa dikenal secara luas. Kebudayaan yang diajukan untuk dipatenkan tersebut adalah tarian likurai, natoni, tutur adat, pesta kacang di Lembata sebagai ritual adat, umek bubuh (rumah bulat), dan terakhir tarian legolego dari Kabupaten Alor. Sebelumnya, NTT sudah memiliki delapan budaya asli yang sudah dipatenkan secara nasional, diantaranya adalah Desa Adat Wairebo Manggarai, Pasola Sumba, Tinju Tradisional Petu Negeko, Upacara Penti di Manggarai, Londok Lingko Manggarai, Sasando, Tarian Caci, dan Rumah Bale di Sumba. Dengan adanya budaya asli NTT yang telah dipatenkan secara nasional tersebut, diharapkan dapat dijadikan sebagai pemicu bagi wilayah dengan ras Melanesia lainnya untuk mengajukan hak paten secara nasional, khususnya budaya asli Papua. Hal itu dilakukan untuk mencegah negara lain untuk mengajukan klaim atas budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut.

Secara internal, perhelatan MCF di NTT yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda seharusnya dapat dijadikan sebagai momentum refleksi bagi seluruh rakyat Indonesia. Refleksi sebagai perayaan kebhinekaan dan perbedaan-perbedaan budaya di Indonesia yang seharusnya dilihat sebagai keberagaman dan tidak boleh dianggap menghalangi persatuan. Namun, justru keberagaman tersebut harus mampu mendedikasikan diri dalam konstruksi persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.

Keberagaman dalam konteks budaya berarti tidak hanya terbatas pada garis administrasi wilayah, namun juga harus ditinjau dari sudut pandang aspek historis maupun genetis. Kegiatan MCF seharusnya menyadarkan kita semua bahwa berkumpul bukan semata karena masa lalu atau garis darah, melainkan lebih kepada impian yang sama tentang dunia yang damai, adil, dan sejahtera. Jalur kebudayaan merupakan salah satu cara untuk mengusahakan dan mewariskan masa depan yang lebih baik kepada generasi yang akan datang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s