Papua dan Papua Barat Teladan Toleransi Beragama

5_Papua dan Papua Barat Teladan Toleransi BeragamaKeberagaman suku dan budaya di Papua dan Papua Barat tidak serta merta menghantarkan terjerumus dalam masalah SARA, sebaliknya untuk masalah SARA sangat jarang bahkan hampir tak terdengar. Yang menarik dari Provinsi Papua dan Papua Barat adalah kehidupan beragama, toleransi beragama di provinsi ini patut menjadi teladan beberapa daerah lain di Indonesia yang rentan dengan konflik bernuansa SARA.

Salah satu kabupaten yang hubungan Islam Kristen begitu erat terjalin keharmonisan adalah kabupaten yang di juluki kota pala atau kabupaten Fakfak, tak jauh dari kabupaten Maluku yang pernah terjadi konflik agama Islam-Kristen justru Fakfak, relasi Islam-Kristen sangat damai. Sedikit mengutip cerita sejarah leluhur bahwa dahulu setiap keluarga di kabupaten Fakfak beranggotakan keluarga kandung yang beda agama yakni Islam-Kristen, hubungan kekeluargaan yang sedarah inilah yang mempererat hubungan Islam-Kristen di kabupaten Fakfak. Secara turun temurun tradisi kasih sayang antara anggota keluarga sedarah, akhirnya tertulur kepada hubungan tetangga, lingkungan tempat tinggal dan meluas kepada masyarakat umum di kabupaten Fakfak, dari tuan-tuan tanah sampai kaum pendatang nuansa kasih sayang dan relasi beragama menjadi wajib dijaga untuk melestarikan nilai-nilai kekeluargaan dan budaya masyarakat Kabupat Fakfak. Atmosfir relasi Islam-Kristen yang damai menyebar luas ke kabupaten-kabupaten lain di Papua dan Papua Barat.

Provinsi Papua Barat tergolong provinsi yang masih seumuran jagung, walau muda Provinsi Papua Barat sangat tepat menjadi panutan untuk provinsi lain di Indonesia, dalam hal relasi beragama. Perlu diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Papua Barat beragama Kristen, mayoritas Kristen tidak lantas menjadikan umat Kristen di tanah Papua Barat, bertindak semena-mena terhadap umat minoritas. Relasi Islam-Kristen di Papua Barat menjelang bulan puasa sudah menjadi tradisi bersama untuk saling menghormati, menyemangati, dan menghargai umat Islam yang sedang melangsungkan ibadah puasa. Melekat dalam ingatan perayaan tahunan di bulan puasa adalah ; jajanan kolak pisang dan es pisang ijo, serta jajanan lainnya yang bertaburan hampir di setiap jantung kota, sampai pinggiran kota di seluruh kabupaten dan kota di Papua Barat. Perayaan ini bukan saja menjadi perayaan yang dinantikan umat Islam, namun menjadi sukacita tersendiri bagi umat non Islam termasuk umat Kristen. Yang harus menjadi catatan negeri ini adalah ketika semua mata memandang, dan semua bibir berucap, bahwa Papua dan Papua Barat dari segi keamanan kurang kondusif, namun sesungguhnya umat muslim di tanah Papua dan Papua Barat memiliki pengalaman berbeda untuk keamanan yang di dirasakan dan dialami.

Ketika orang takut untuk keluar rumah pada larut malam atau subuh dini hari, justru ibadah sholat subuh selalu dapat terlaksana dan tidak sedikit jemaah yang hadir dalam ibadah subuh tersebut. Ini menunjukan kepada masyarakat di Indonesia, bahwa mentalitas masyarakat Papua dan Papua barat adalah mentalitas kasih dan menghormati sesama manusia, menjunjung tinggi Pancasila yakni sila pertama’ Ketuhanan Yang Maha Esa’. Artinya masyarakat Papua dan Papua Barat mengakui bahwa Indonesia mengakui beberapa agama, dan agama yang diakui wajib untuk dihormati, dihargai dan dikasihi. Masyarakt Papua Barat tidak pernah mengenal seorang Arnold Toynbee ; ’semua agama pada dasarnya sama’. namun teori Toynbee, sudah sejak lama di praktekan di atas tanah Papua dan Papua barat, seperti contoh tuan-tuan tanah memberikan tanah mereka untuk di jadikan tempat ibadah tanpa ada persoalan di kemudian hari, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah lain di Indonesia, di Papua dan Papua Barat tidak pernah terjadi hal-hal anarkis yang merugikan agama lain, sebaliknya di Papu dan Papua Barat keberagamaan agama termasuk agama Islam, melakukan aktifitas keagamaan, selalu medapatkan dukungan baik dari agama mayoritas atau Kristen. Saat bulan puasa tiba, pemberitaan yang muncul di media tentang kondisi Papua di dunia internasional ramai dibicarakan, Nampak dalam kegiatan masyarakat ada kedewasaan beragama yang benar-benar harus jadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Realita pemisahan antara tiap sisi-sisi kehidupan mencerminkan masyarakat Papua yang notabene dalam pandangan masyarakat daerah lain di Indonesia terkesan negative justru masyarakat ini yang patut diteladani. sesungguhnya di Provinsi inilah relasi Islam-Kristen harmonis dan damai terbangun.

PAPUA : Panglima TPN/OPM Tidak Dukung ULMWP

4_PAPUA  Panglima TPNOPM Tidak Dukung ULMWPMasih munculnya aspirasi masyarakat Papua untuk memisahkan diri dari NKRI, banyak dipublikasikan melalui media. Berita-berita yang disampaikan oleh berbagai media bahwa masyarakat Papua ingin merdeka tidak sepenuhnya benar, seperti yang disampaikan oleh Negara Republik Federal Papua Barat dan West Papua National Council Liberation/ WPNCL serta KNPB yang menyatukan diri dengan membentuk organisasi United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP yang menyatakan, sebagai wakil rakyat Papua mereka akan memperjuangkan Papua merdeka, namun hal tersebut dibantah oleh Panglima Organisasi Papua Merdeka Goliath Tabuni, bahwa organisasi tersebut tidak mewakili seluruh masyarakat Papua.

Berikut ini pernyataan Panglima Tertinggi OPM, Goliath Tabuni atau TPN/OPM yang dikeluarkan beberapa waktu lalu yang diantaranya disampaikan bahwa TPN-OPM dalam komando nasional dibawah Pimpinan Gen. Goliath Tabuni mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ULMWP bukan merupakan representative mayoritas rakyat bangsa Papua Barat. Karena organisasi tersebut dibentuk tanpa memperoleh dukungan mayoritas pemimpin dan pejuang Papua Merdeka serta rakyat bangsa Papua sendiri. Oleh karenanya TPN-OPM Dalam Negeri Papua Barat dibawah Pimpinan Gen. Goliath Tabuni menolak tegas atas pembentukan ULMWP dan meminta kepada tokoh-tokoh TPN-OPM seperti Dr. John Otto Ondawamen, Andy Ayamyseba, Rex Rumakiek dan Richard Joweni, dll agar tidak meneruskan perjuangannya.

Demikian, pernyataan resmi TPN-OPM ini dibuat di Markas Pusat dan dapat dikeluarkan dari Bagian Penerangan, dibawah kendali Kepala Staf Umum Mayjen Teryanus Satto, berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, guna menjadi perhatiann oleh semua pihak. Panglima Komando Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka, Panglima Tinggi TPNPB, Gen. Goliath N. Tabuni, NRP. 7312.00.00.00.

Banyaknya pernyataan organisasi atau kelompok yang mengatasnamakan wakil masyarakat Papua untuk memperjuangkan Papua merdeka yang muncul di berbagai media menunjukan bahwa perjuangan Papua merdeka bukan murni keinginan rakyat Papua, namun lebih dari kepentingan kelompok tertentu saja. Mantan aktivis Papua merdeka wilayah Saereri, Marthen Sroyer mengatakan “sekarang banyak orang mengatakan wakil rakyat Papua yang berjuang untuk Papua merdeka, tetapi sebenarnya hanya UUD saja (ujung-ujungnya duit-red)… ya.. mereka teriak merdeka, tapi di kasih duit dong diam…”. “sebenarnya masyarakat Papua butuh peningkatan kesejahteraan saja… jadi stop tipu rakyat Papua untuk merdeka” tegas Marthen.

Papua Masih dan Akan Terus Menjadi Bagian Indonesia

3_Papua masih dan akan terus menjadi bagian IndonesiaMaraknya tindak kekerasan yang masih terjadi diwilayah Papua, khususnya diwilayah pegunungan, mestinya tidak terjadi, jika orang-orang yang mempunyai kepentingan dengan mengangkat isu Papua bukan bagian dari Indonesia dan Papua berhak untuk merdeka berpikir dengan jernih dan sungguh-sungguh mengutamakan kepentingan rakyat.

Seperti yang disampaikan oleh Koordinator Umum Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka (OPM), Lambert Pekikir, bahwa perjuangan untuk memerdekakan Papua sebagai negara sendiri tidak bisa dipaksakan melalui aksi kekerasan.

Lambert mengatakan bahwa Papua hingga kini masih menjadi milik Indonesia sampai waktunya melepaskan diri. ”Itu harus diakui. Kita tidak bisa bikin apa-apa. Karena Papua masih berada di dalam wilayah Indonesia, maka pendekatan yang dilakukan harus lebih terarah,” ujarnya.

Jika dilihat dari sejarah, menurut ahli sejarah, Drs. Fathnan Harun, M.Si, Papua adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Benua Australia, merupakan bagian dari Indonesia. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan, Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Sekitar 47% wilayah pulau Papua merupakan bagian dari Indonesia, yaitu yang dikenal sebagai Netherland New Guinea, Irian Barat, West Irian, serta Irian Jaya, dan akhir-akhir ini dikenal sebagai Papua. Sebagian lainnya dari wilayah pulau ini adalah wilayah negara Papua New Guinea (Papua Nugini), yaitu bekas koloni Inggris. Populasi penduduk diantara kedua negara sebetulnya memiliki kekerabatan etnis, namun kemudian dipisahkan oleh sebuah garis perbatasan.

Sejarah Papua tidak terlepas dari masa lalu Indonesia. Papua adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Benua Australia, merupakan bagian dari Indonesia. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan, Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Sekitar 47% wilayah pulau Papua merupakan bagian dari Indonesia, yaitu yang dikenal sebagai Netherland New Guinea, Irian Barat, West Irian, serta Irian Jaya, dan akhir-akhir ini dikenal sebagai Papua. Sebagian lainnya dari wilayah pulau ini adalah wilayah negara Papua New Guinea (Papua Nugini), yaitu bekas koloni Inggris. Populasi penduduk diantara kedua negara sebetulnya memiliki kekerabatan etnis, namun kemudian dipisahkan oleh sebuah garis perbatasan.

Papua memiliki luas area sekitar 421.981 kilometer persegi dengan jumlah populasi penduduk hanya sekitar 2,3 juta. Lebih dari 71% wilayah Papua merupakan hamparan hutan hujan tropis yang sulit ditembus, karena terdiri dari lembah-lembah yang curam dan pegunungan tinggi, dan sebagian dari pegunungan tersebut diliputi oleh salju. Perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini ditandai dengan 141 garis Bujur Timur yang memotong pulau Papua dari utara ke selatan.

Seperti juga sebagian besar pulau-pulau di Pasifik Selatan lainnya, penduduk Papua berasal dari daratan Asia yang bermigrasi dengan menggunakan kapal laut. Migrasi itu dimulai sejak 30.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, dan mengakibatkan mereka berada di luar peradaban Indonesia yang modern, karena mereka tidak mungkin untuk melakukan pelayaran ke pulau-pulau lainnya yang lebih jauh.

Para penjelajah Eropa yang pertama kali datang ke Papua, menyebut penduduk setempat sebagai orang Melanesia. Asal kata Melanesia berasal dari kata Yunani, ‘Mela’ yang artinya ‘hitam’, karena kulit mereka berwarna gelap. Kemudian bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan juga bangsa Portugis yang berinteraksi secara dekat dengan penduduk Papua, menyebut mereka sebagai orang Papua.

Papua sendiri menggambarkan sejarah masa lalu Indonesia, dimana tercatat bahwa selama abad ke-18 Masehi, para penguasa dari kerajaan Sriwijaya, yang berpusat di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Palembang, Sumatera Selatan, mengirimkan persembahan kepada kerajaan China. Didalam persembahan itu terdapat beberapa ekor burung Cendrawasih, yang dipercaya sebagai burung dari taman surga yang merupakan hewan asli dari Papua, yang pada waktu itu dikenal sebagai ‘Janggi’.

Dalam catatan yang tertulis dalam kitab Negara Kertagama, Papua juga termasuk kedalam wilayah kerajaan Majapahit (1293-1520). Selain tertulis dalam kitab yang merupakan himpunan sejarah yang dibuat oleh pemerintahan Kerajaan Majapahit tersebut, masuknya Papua kedalam wilayah kekuasaan Majapahit juga tercantum di dalam kitab Prapanca yang disusun pada tahun 1365.

Jadi jelaslah sudah, banyak orang meragukan bahwa apa betul Papua bagian dari Indonesia. Namun seperti yang disampaiakan Drs. Fathnan Harun, M.Si, Papua jelas merupakan bagian dari Indonesia dan salah satu Panglima OPM, Lambert Peukikir juga menyatakan bahwa Papua berada di dalam wilayah Indonesia.

KNPB Kembali Lakukan Tindak Kekerasan dan Melawan Hukum

2_KNPB Kembali Lakukan Tindak Kekerasan dan Melawan HukumBermula dari kegiatan simpatik yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menamakan Komite Nasional Papua Barat atau biasa dikenal dengan sebutan KNPB dengan melakukan penggalangan dana untuk kegiatan organisasinya tepatnya tanggal 19 Maret 2015 pukul 10.30 WIT, bertempat di Komplek Ruko Blok C Jln. Papua Distrik Dekai Kab. Yahukimo.

Aksi penggalangan yang dilakukan oleh KNPB semakin lama mengganggu masyarakat sekitar karena mereka melakukan dengan memalang jalan dan membakar ban bahkan tidak mengantongi ijin, sehingga anggota polisi dari Polres Yahukimo dan Brimob Detasemen A dipimpin Iptu Abjan Djalal (Danton Brimob) dan Kompol Supraptomo (Wakapolres Yahukimo)melakukan pembubaran terhadap kelompok massa KNPB yang berjumlah kira-kira sekitar 50 orang.

Rencana negoisasi yang akan dilakukan oleh Ipda Budi Santoso, S.Sos (Kasat Intel Polres Yahukimo) dengan massa KNPB agar membubarkan diri dengan tertib gagal diupayakan. Alih-alih bubar dengan tertib, akan tetapi massa KNPB malah langsung menyerang dengan melempar batu kea rah anggota Polisi dan bahkan senjata Revolver jenis Taurus milik Ipda Budi Santoso dirampas oleh massa KNPB. Massa tidak serta-merta bubar setelah dilakukan pembubaran paksa. Sebagian massa melempari rumah warga dengan menggunakan batu. Bahkan seorang ibu rumah tangga (IRT) Ani (35) warga Jalan Paradiso, mengalami luka sobek di bibir bawah serta luka lebam di wajah akibat dipukuli massa.

Setelah aksi demonstrasinya dibubarkan polisi, ternyata massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mendatangi Bandara Nop Goliat, Yahukimo, Papua. Mereka menyerang bandara sehingga beberapa petugas terluka.

Dalam keterangannya Jumat (20/3/2015), Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Patrige Renwarin menyatakan akibat serangan itu setidaknya empat orang terluka. Beberapa di antaranya masih dirawat di rumah sakit setempat.

“Saat itu semua korban langsung melarikan diri menuju basecamp PT Bintang Timur Mandiri, namun mereka tetap dikejar massa KNPB,” kata Patrige Renwarin di Jayapura.

Mereka menyerang pegawai Kementerian Perhubungan Yohanes Palapesi yang bertugas di bandara sehingga korban mengalami luka pada 4 jari tangan kanan akibat tebasan parang. Mereka juga menyerang Acep Syaiful Hamdi (28) karyawan maskapai Susi Air. Dia mengalami luka akibat sabetan parang di bagian punggung.

Bahkan saat petugas kesehatan dari RS Dekai akan menjemput para korban, menggunakan kendaraan ambulans turut menjadi korban. Noi Efrat Surirat (26) petugas kesehatan RS Dekai saat dalam perjalanan menuju bandara dengan ambulans dihadang massa. Efrat diserang sehingga mengalami luka serius di telinga bagian kanan.

Pasca kejadian tersebut, tanggal 21 Maret 2015 Tim gabungan anggota Brimob dan Polres Yahukimo yang dipimpin AKBP. Ade Djaja Subagja (Kapolres Yahukimo) melakukan penyisiran dan penggeledahan Markas/Sekretariat KNPB di Jalan Heluk Pasar Baru Dekai Kab. Yahukimo. Hasil penggeledahan didapatkan Senpi pendek Revolfer jenis Taurus nomor senpi XK 255659 milik Ipda Budi Santoso (Kasat Intel Polres Yahukimo) yang dirampas oleh massa KNPB saat negosiasi pembubaran aksi penggalangan dana KNPB di komplek Ruko blok C Jln. Papua Dekai pada tanggal 19 Maret 2015. Selain itu anggota Tim gabungan mendapatkan barang bukti berupa dokumen dan beberapa baju loreng seragam KNPB yang digunakan dalam setiap melakukan aksi.

Pernyataan yang pernah dikeluarkan Ketua KNPB, Victor Yeimo bahwa Pimpinan Pusat KNPB menegaskan untuk kesekian kalinya, sejak awal berdiri pada tahun 2008 hingga hari ini, KNPB tidak melakukan gerakan perlawanan dengan kekerasan. Namun fakta dilapangan berbicara lain, seringkali aksi-aksi KNPB yang dilakukan disertai dengan kekerasan dan cenderung melawan hukum, dari beberapa penggeledahan di secretariat KNPB wilayah ditemukan senjata tajam bahkan senjata api, hal serupa juga, aksi yang dilakukan di Yakuhimo jelah-jelah terbukti menciptakan gangguan kenyamanan masyarakat bahkan melakukan kekerasan dengan melempar batu diperumahan warga, menganiaya masyarakat di Bandara Nop Gholiat Yahukimo.

“gerakan perlawanan tanpa kekerasan yang mana ?” ucap keluarga korban penganiayaan saat dikonfirmasi. “itu hanya omong-omong saja, buktinya mereka selalu mengganggu ketertiban setiap aksinya, trus apa mereka mau bertanggungjawab atas tindakkannya yang merugikan orang lain??” tambahnya dengan geram.

Senada dengan pihak keluarga korban, salah seorang tokoh masyarakat Yahukimo juga menyampaikan, apa yang dilakukan oleh KNPB tidak didukung oleh masyarakat, bahkan tokoh-tokoh masyarakat Yahukimo mengecam tindakan tersebut, karena merugikan rutinitas warga, masyarakat takut keluar, bahkan operasional Bandara sempat ditutup. Masyarakat Yahukimo berharap, aparat kepolisian segera mengambil tindakan, untuk menangkap orang-orang KNPB yang terus berupaya mengganggu ketertiban. “mereka sudah kriminal.. mereka sudah melanggar hukum.. jadi untuk apa lama-lama, tangkap saja mereka, biar Papua Aman..” ungkap salah seorang pegawai Bandara Nop Gholiat asli anak Papua yang enggan disebutkan namanya.

Papua : Pantaskah OPM Disebut Pejuang ?

1_Papua  Pantaskah OPM Disebut PejuangUntuk kesekian kalinya seorang anggota organisasi yang mengklaim berjuang untuk rakyat Papua, kembali melakukan tindakan yang jauh dari kata pejuang rakyat. Kali ini seorang PNS Bappeda Kab. Puncak Jaya, April Wakerkwa ditembak kakinya oleh orang yang mengaku anggota OPM pimpinan Militer Murib saat melakukan perjalanan menuju Kampung Kunga, Distrik Gome, Kab. Puncak Jaya.

Saat April Wakerkwa mengendarai sepeda motor menuju Kampung Kunga, Distrik Gome untuk mengambil berkas kepegawaian sebagai syarat melanjutkan studi kuliah di Makassar. Penembakan terjadi pada waktu korban melakukan perjalanan ke Kampung Kunga distrik Gome Kab. Puncak, korban melewati jembatan Kunga, namun tiba-tiba didatanggi 2 orang memegang senjata api dan bertanya ada maksud apa ke Gome. “saya pegawai yang mau pendidikan D3 di Makassar, mau mengambil berkas Kepegawaian di Kampung Kunga” jawab korban. Selanjutnya korban dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan sekitar 15 Meter melewati Jembatang, korban kembali lagi dicegat 2 orang bersenjata dan diperiksa, kemudian mengambil barang-barang korban berupa HP dan uang 13 Juta dan selanjutnya korban ditembak di kaki kanan sebanyak 1 X hingga tembus ke bawah.

Masih beruntung nyawa korban masih dapat terselamatkan setelah mendapatkan tindak kekerasan oleh anggota kriminal bersenjata tersebut yang ditemukan oleh salah seorang PNS Kab. Puncak Jaya dan kemudian dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Melihat kejadian tindak kekerasan disertai dengan penembakan dan perampasan yang masih terjadi di wilayah Puncak Jaya, menandakan bahwa kelompok-kelompok bersenjata tersebut dengan sengaja dan secara terus-menerus melakukan terror dengan terus menganggu keamanan di Kabupaten Puncak. Hal tersebut jelas merugikan rakyat sendiri karena dengan situasi tersebut kegiatan masyarakat sangat terganggu karena masyarakat diliputi rasa kecemasan.

Apa yang sering dikampanyekan oleh tokoh-tokoh Papua merdeka kini hanya isapan jempol belaka. “perjuangan menuju Papua merdeka dengan Damai” hanya slogan semata. Kenyataan yang terjadi, kelompok-kelompok tersebut sering melakukan tindak kekerasan bahkan melakukan penembakan yang kerapkali menimbulkan korban meninggal dunia dari masyarakat sipil. Sangat berbanding terbalik dengan kata “Damai”.

Kejadian perampasan dan penembakan terhadap masyarakat sipil ini, menandakan bahwa kelompok tersebut bukan lagi berjuang untuk Papua merdeka, namun lebih tepat disebut dengan kelompok kriminal atau dapat disebut juga dengan kata “Begal”, karena selain melakukan tindak kekerasan, juga merampas harta milik korban, padahal korban adalah anak adat suku Dani yang notabene orang asli Papua.

“tidak ada lagi kata pejuang, dong Cuma ingin hidup enak tapi tara mau bekerja..” ucap salah seorang mama yang mengetahui saat tindakan perampasan tersebut. “Stop sudah bilang Papua merdeka, kita ini su merdeka, tinggal bagaimana katong berusaha hidup lebih baik, damai itu penting” tambahnya dengan kesal.

Selamatkan Lahan Pertanian Kabupaten Buru dari Aktivitas Tambang

sawahGunung Botak yang terletak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku sepertinya menjadi magnet yang menggiurkan bagi beberapa orang belakangan ini. Bagaimana tidak, semenjak penemuan sumber emas di Gunung yang sangat disaklarkan oleh masyarakat setempat. Di Pulau Buru, semua seolah sedang terkena demam emas. Walaupun, sekarang demamnya sudah mulai agak mereda, tidak sepanas dan seheboh tahun lalu hingga pertengahan tahun ini. Semua hotel dan penginapan mendadak penuh terisi para pendatang. Pulau Buru yang biasanya sepi mendadak hiruk pikuk. Kehidupan masyarakat mendadak berubah. Penduduk setempat mulai mengeluhkan kenaikan harga-harga bahan pokok yang ikut melonjak, menyertai para pendatang. Padahal, banyak di antara penduduk setempat yang tidak terkait langsung dengan aktivitas penambangan yang marak di sana.

Kegiatan penambangan emas di Pulau Buru masih didominasi oleh kegiatan penambangan emas tradisional. Kegiatan penambangan emas di Pulau Buru sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Namun, baru naik pamor sekitar November 2011. Para penambang tidak hanya berasal dari Pulau Buru, tapi juga berasal dari pulau lainnya, antara lain dari Sulawesi, terutama Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara, maupun dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Para penambang berdatangan mencoba menggapai Kota Namlea sebagai ibukota Kabupaten Buru.

Penambangan emas telah menyita perhatian para pendatang maupun penduduk setempat. Penduduk yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari pertanian pun ikut tergoda dan beralih profesi. Sawah-sawah dibiarkan terlantar dan mengering. Sungguh saying, magnet emas begitu kuat. Mengalahkan magnet pertanian yang menjadi komoditi utama Pulau Buru. Akibat dari banyaknya lahan yang diterlantarkan akibat pertambangan ini, target produksi beras Maluku tidak memenuhi target karena Pulau Buru yang selama ini menjadi Lumbung Beras Maluku mengalami penurunan produktivitasnya akibat eksodus para petani ini. Bahkan masyarakat Pulau Buru saat ini terpaksa membeli beras ke Ambon untuk memenuhi kebutuhan berasnya.

Disamping eksodus petani menjadi penambang emas, menurunnya produktivitas pertanian juga disebabkan oleh tercemarnya lahan persawahan oleh bahan merkuri dari hasil kegiatan penambangan yang digunakan untuk memurnikan emas. Bahan merkuri ini mencemari sungai yang selama ini digunakan sebagai sumber air untuk lahan pertanian, akibatnya banyak lahan pertanian gagal panen,

Perlu tindakan tegas dari pemerintah setempat dalam hal ini Pemkab Buru dan Pemerintah Provinsi Maluku dalam menyelesaikan permasalahan pertambangan ini, jangan dibiarkan berlarut – larut. Hal ini demi menyelamatkan status Kabupaten Buru yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi Maluku dari tangan kotor pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya ingin mengeruk keuntungan tanpa melihat efek jangka panjang dari pertambangan ini yang dapat merusak alam. Masyarakat harus diberikan kesadaran betapa tambang emas sudah sangat merusak ekosistem dan lahan pertanian yang selama ini menjadi andalan masyarakat disana. Masyarakat harus disadarkan bahwa keuntungan sesaat harus dikesampingkan demi menghindari kehancuran di depan nantinya.

Pemekaran Daerah Bermanfaat Untuk Masyarakat Papua

PemekaranPemekaran daerah sepertinya menjadi pekerjaan reguler pemerintah setiap tahunnya. Bagaimana tidak, setiap tahunnya ratusan rekomendasi pemekaran daerah disampaikan kepada pemerintah untuk disahkan. Sejak dimulainya era reformasi, keran pemekaran memang dibuka seluas – luasnya oleh pemerintah. Tujuan utama dari pemekaran adalah untuk mendekatkan pelayanan pemerintah ke masyarakat di daerah sehingga dapat mempercepat pembangunan yang tentu saja berimbas kepada meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Provinsi Papua sebagai bagian dari Indonesia saat ini juga dibanjiri dengan usulan pemekaran daerah dari berbagai elemen masyarakat di Papua. Tercatat ada 23 usulan pemekaran dari Provinsi Papua saja, yang terdiri dari usulan pembentukan provinsi baru sebanyak dua usulan dan usulan pembentukan kabupaten/kota baru sebanyak 21 usulan, ini menempatkan Papua sebagai provinsi yang memiliki usulan pemekaran terbanyak di Indonesia. Banyaknya usulan pemekaran dari Papua ini menuntut pemerintah untuk jeli dan memilah – milah mana daerah yang harus menjadi prioritas pemekaran mengingat belum tentu semua aspirasi pemekaran daerah sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut.

Terlepas dari banyaknya usulan pemekaran daerah dari Papua yang sampai ke Parlemen dan kontroversi yang menyertainya, namun ini menunjukkan bahwa belum maksimalnya pelayanan publik yang dijalankan oleh pemerintah daerah sehingga banyak bermunculan usulan pemekaran tersebut. Jika dilihat dari perkembangan prospek pembangunan di Papua secara umum sudah cukup baik, namun masih banyak juga yang belum berjalan baik disebabkan belum efisien tadi pemerintah setempat dalam menjalankan tupoksinya.

Banyak kendala yang menyebabkan belum efisiennya pemerintah daerah di Papua menjalankan kebijakan pembangunan diantaranya adalah wilayah yang terlalu luas, akses infrastruktur di Papua yang masih terbatas serta ketidak merataan pembangunan sehingga menimbulkan iri hati dari masyarakat yang merasa di anaktirikan oleh pemerintah daerah padahal sudah sedimikian banyaknya anggaran Negara yang mengucur deras ke tanah Papua namun tidak ada perkembangan berarti dalam pembangunan, sehingga pemekaran daerah dapat menjadi opsi yang baik bagi perkembangan daerah Papua.

Manfaat yang nantinya didapatkan masyarakat papua apabila pemekaran ini disahkan oleh pemerintah pusat adalah semakin dekatnya rentang jarak pelayanan daerah yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat papua sehingga menjadi lebih efisien. Kemudian pemerataan pembangunan yang diidam – idamkan oleh masyarakat papua dapat berjalan dengan maksimal. Disamping itu, khusus pemekaran Papua menjadi dua provinsi yaitu provinsi Papua Tengah dan Papua selatan, manfaat yang diberikan terutama kepada pemakaian anggaran otonomi khusus untuk pembangunan dapat dipakai secara maksimal dan tidak menjadi anggaran yang dibuang – buang secara mubazir. Disamping itu rentang kontrol pemerintah provinsi nantinya akan semakin mudah seiring makin sedikitnya daerah yang dibawahi dalam satu provinsi, nantinya Provinsi Papua tidak lagi membawahi 29 Kabupaten/kota seperti sekarang ini.

Inti dari pemekaran adalah peningkatan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan. Apabila kedua hal ini terpenuhi, maka impian mencapai pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua akan dapat tercapai. Sehingga nantinya masyarakat Papua mampu mengejar ketertinggalan mereka dengan daerah lainnya di Indonesia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.